May Day 2019, Hanif Dhakiri Ingatkan 4 Isu Ketenagakerjaan

| Rabu, 01/05/2019 16:25 WIB
May Day 2019, Hanif Dhakiri Ingatkan 4 Isu Ketenagakerjaan Tangkapan layar video Menaker, M. Hanif Dhakiri (dok twitter @KemnakerRI)

JAKARTA, RADARBANGSA.COM - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri mengucapkan selamat memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh hari ini, Rabu 1 Mei 2019.

Melalui sebuah video berdurasi sekira 4 menit, Hanif menyatakan momentum May Day kali ini sangat tepat dijadikan ajang mempersatukan bangsa Indonesia, terutama kaum buruh.

“Inilah saatnya bersatu, dan bekerjasama merespon perubahan dunia yang bergerak cepat dan masif,” kata Hanif.

Hanif juga berpesan agar seluruh pekerja berupaya untuk beradaptasi menghadapi perubahan yang dikendalikan oleh teknologi informasi, inovasi dan kolaborasi. “Saya percaya kita bisa, saya optimis Indonesia bisa,” terang dia.

Lebih lanjut Hanif juga mengingatkan 4 isu ketenagakerjaan yang harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya pemerintah, namun juga oleh serikat buruh maupun dunia usaha.

Pertama, Ekosistem dunia ketenagakerjaan. Menurut Hanif, ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia saat ini masih kaku, istilahnya kayak kanebo kering. Mencari pekerja dengan skiil mumpuni cukup sulit, proses panjang PHK, jam kerja kaku, produkrifitas terbatas, hubungan industrial bergaya power relation.

“Pemerintah ingin ekosistem industrial yang kaku ini menjadi fleksibel. Kenapa harus begitu? Ya karena dunia kerjanya, karena pangsa pasarnya yang menuntut fleksibel,” papar Hanif.

Kedua, skiil dan kompetensi. Menurut Hanif, skiil merupakan mesin pertumbuhan ekonomi di era digital dan kompetitif.

“Dengan skiil yang mumpuni, maka produktifitas dapat digenjot. Pembangunan SDM perlu dikeroyok bareng-bareng, semua orang harus dipastikan mengalami long life learning melalui bentuk skiiling, upskiiling dan reskiiling,” imbuh dia.

Ketiga, perlindungan tenaga kerja di pasar kerja yang fleksibel. Menurut Hanif, negara wajib hadir melindungi setiap tenaga kerja. Tapi cara negara hadir melindungi mereka harus fleksibel.

Keempat, penguatan kewirausahaan yang berbasis kreativitas, inovasi dan kolabarasi. Hanif menjelaskan isu ini sangat penting untuk menyambut bonus demografi di masa depan.

“Angkatan kerja usia produktif jauh lebih besar daripada angkatan kerja usia non produktif,” tukas Hanif.

Tags : Hanif Dhakiri , May Day , Kemnaker