Cak Imin: Bangsa & Negara Harus Berterimakasih ke Kesultanan Sintang

| Kamis, 10/05/2018 16:58 WIB
Cak Imin: Bangsa & Negara Harus Berterimakasih ke Kesultanan Sintang Cak Imin bersama Sultan Sintang, H Raden Muhammad Ikhsani Ismail Safiudin foto bersama usai penyerahan gelar kehormatan adat Sintang (dok PKB)

SINTANG, RADARBANGSA.COM - Wakil Ketua MPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar menaruh harapan besar kepada pemerintah untuk meningkatkan perhatian dan kepedulian kepada Kesultanan Sintang Al-Mukarramah, Kalimantan Barat.

Menurut Cak Imin (demikian ia biasa disapa), kontribusi besar yang telah ditorehkan Kesultanan Sintang untuk Indonesia sangat nyata, sehingga bangsa dan negara harus berterimakasih kepadanya.

“Bangsa dan negara harus berterimakasih kepada Kesultanan Sintang, yang telah berkontribusi luar biasa membangun pilar-pilar kebangsaan kita,” kata Cak Imin usai menerima gelar kehormatan dari Kesultanan Sintang, Kamis 10 Mei 2018.

Ketua Umum PKB ini menambahkan, kekayaan khazanah, nilai tradisi dan budaya serta pengalaman sejarah Kesultanan Sintang juga memberi inspirasi sekaligus semangat dan kekuatan bagi bangsa Indonesia.

Kesultanan yang berdiri sejak Abad ke 4 Masehi itu, kata Cak Imin, telah mengilhami lahirnya lambang negara Indonesia, burung Garuda.

“Saya berharap Kesultanan Sintang ini mendapat perhatian secara khusus, baik peran-peran kebudayaan maupun perhatian dalam peningkatan kualitas mental dan karakter kebangsaan kaum muda di tanah air,” tegas Cak Imin.

Untuk diketahui, Istana Kesultanan Sintang Al-Mukarramah, Kalimantan Barat berada di tepian Sungai Kapuas dengan dua bangunan pengiring di sisi kanan dan sisi kirinya. Sejak tahun 2006 yang lalu, Kesultanan Sintang dipimpin oleh Pangeran Ratu Sri Kesuma Negara V, H Raden Muhammad Ikhsani Ismail Safiudin.

Bangunan pengiring di sisi barat kediaman Sultan saat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Kerajaan Sintang, sementara di sisi timur, selain sebagian digunakan untuk menyimpan foto dan lukisan raja-raja Sintang, juga dimanfaatkan sebagai ruang kelas Taman kanak-kanak (TK) Dara Djuanti.

Kerajaan ini adalah transformasi dari kerajaan Hindu. Penguasa terakhir yang beragama Hindu lalau memeluk Islam adalah Raja Abang Tembilang atau Abang Pencin. Setelah itu, seluruh petinggi Kesultanan Sintang maupun rakyat setempat berbondong-bondong turut memeluk agama Islam.

Sintang dan Garuda

Tak kalah menarik untuk diketahui adalah asal-usul lambang Garuda yang kini menjadi lambang resmi Indonesia. Lambang itu bermula dari Patih Lohgender dari Kerajaan Majapahit yang menyanggupi permintaan Putri Sintang, Putri Dara Juanti berupa keris elok berkepala naga, tiang penyangga gong besar, dan seperangkat gamelan jika ingin meminangnya.

Pangeran Lohgender pun memenuhinya dan memberikan seluruh permintaan Putri Dara Juanti itu, termasuk tiang penyangga gong berkepala garuda. Sejak saat itu garuda kemudian menjadi inspirasi Sultan Sintang menjadi lambang Kerajaan.

Hingga akhirnya pada awal tahun 1950an, Sultan Pontianak Abdul Hamid II menemui Presiden Soekarno dan menawarkan Garuda khas Sintang menjadi lambang negara. Sultan Pontianak itu mengaku tertarik dengan lambang Garuda ketika berkunjung ke Kesultanan Sintang.

"Jadi ide lambang Garuda itu berasal dari Kerajaan Sintang yang diajukan oleh Sultan Hamid II Pontianak kepada Presiden Soekarno," kata Cak Imin.

Pada rancangan awal yang diajukan Sultan Hamid II, kepala Garuda masih berjambul, kemudian rancangan kepala Garuda yang diresmikan sebagai lambang negara pada 11 Februari 1950 itu tanpa jambul dengan penambahan jumlah helai bulu.

Helai bulu leher 45 sebagai representasi 2 digit terakhir tahun kemerdekaan, 17 helai bulu pada setiap sayap yang berarti tanggal kemerdekaan, 8 helai bulu ekor melambangkan bulan kemerdekaan, Agustus. Dan 19 helai bulu pada pangkal ekor yang menunjukkan 2 digit pertama tahun kemerdekaan.

Tags : Cak Imin , Kesultanan Sintang , Garuda