Diplomasi Elegan Ala Cak Imin

| Kamis, 04/01/2018 11:20 WIB
Diplomasi Elegan Ala Cak Imin Ketua Umum PKB, A Muhaimin Islandar mengajak 12 Dubes OKI satukan komitmen dukung kemerdekaan Palestina (dokumentasi PKB)

JAKARTA, RADARBANGSA.COM - Tempo hari lalu jagat bumi ini tanpa terkecuali di Indonesia dihebohkan oleh kebijakan Amerika Serikat melalui Presidennya Donald Trump atas pengakuan terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sontak jagat bumi ini “marah” karena Trump dianggap telah cederai kedamain antero negeri Palestina.

Kecaman dunia terhadap Trump tak bisa dibendung, aksi demonstrasi dilakukan di berbagai negera, terlebih negara berpenduduk muslim. Aksi itu dilakukan sebagai respons atas “kepongahan” Trump yang telah memperlakukan negeri Yasser Arafat ini tercerabut dari akar kedaulatannya.

Begitupun halnya di Indonesia, aksi kecaman terhadap Donald Trump dikomandani oleh Majelis Ulama Indonesia(MUI) melalui KH. Ma’ruf Amin sebagai pucuk pimpinannya. Aksi yang dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2017 di Lapangan Monas ini dihadiri oleh ribuan masa yang hadir dari berbagai daerah diluar Jakarta.

Aksi yang bertajuk 1712 ini tak hanya dilakukan di lapangan Monas, setelah mereka berkumpul disana langsung menuju kantor Kedutaan Besar AS. Pada aksi itu tak sedikit masa aksi yang mengibarkan bendera Palestina.

KH. Ma’ruf Amin Ketua MUI dalam orasinya seperti yang lansir cnnindonesia.com: “Saya mengecam keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas pernyataannya bahwa Yerusalem adalah ibukota negara Israel. Atas dasar MUI memprakarsai aksi bela Palestina ini”.

“Kita betul-betul merasa tersakiti dengan ucapan Donald Trump. Kita Tolak. Kita ajak seluruh dunia supaya Trump mencabut keputusannya, apa dia tidak mendengar, atau sudah tidak mendengar. Jangan-jangan Trump sudah sumsum, bukmun, umyun fahum la yubsirun. Budeg tuli bisu,” imbuhnya. 

Rois A’m PBNU itu juga mengajak peserta aksi Bela Palestina untuk memperjuangkan Palestina dari penjajahan. Menurutnya, Palestina merupakan satu negara yang belum merdeka terutama dari Israel dan Amerika Serikat.

Selang lima hari setelah aksi itu, Cak Imin panggilan akrab DR. (HC). H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si bersilaturahim dengan Dubes (Duta Besar) negara-negara timur tengah. Pertemuan yang dilaksanakan di salah satu hotel di Jakarta ini beragenda utama bahas konflik Palestina dan Israel.

Dubes yang hadir pada silaturahim ini diantaranya: Mesir, Palestina, Iran, Qatar, Saudi Arabia, dan Yaman. Dalam pertemuan itu Cak Imin mengajak para duta besar untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan jalan diplomasi. Pada kesempatan yang sama, Cak Imin mengajak duta besar yang hadir untuk terus berjuang membela Palestina dan memperjuangkan kemerdekaan seutuhnya. Terlebih, Pernyataan sepihak Presiden Amerika Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Satu hal, penulis kira ikhtiar ini sengaja dilakukan Cak Imin untuk terus berjuang atas nama kemanusiaan demi membebaskan Palestina dari kekangan Israel. Sebagaimana telah diwarisi Gus Dur bahwa kemanusia harus tetap berdiri tegak diatas “kepentingan” apapun.

Jalankan Amanat

Pada akhir kalimat poin kesatu mabda siyasi (pondasi politik) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) berbunyi: “Menjamin terpenuhinya hak asasi manusia serta ikut melaksanakan ketertiban dunia”.

Amanat mabda siyasi ini kemudian di-break downmelalui Anggaran Dasar (AD) sebagai landasan konstitusional PKB dalam pasal 8 terkait usaha mewujudkan tujuan PKB dalam bidang politik, yakni: melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif serta mengembangkan kerjasamaluarnegeriuntukmenciptakanperdamaian dunia yang abadi, adil, dansejahtera. Secara filosofis tergambar dalam lambang PKB melalui simbol bola dunia.

Kembali kepada pokok bahasan pada tulisan ini terkait silaturahim Cak Imin dengan para duta besar negara-negara timur tengah yang lalu. Penulis kira bukan pencitraan seperti anggapan para haters (pembenci) beliau di medsos. Tetapi ini bagian nyata beliau jalankan amanat mabda siyasi dan AD PKB.

Itulah politik luar negeri ala Cak Imin yang lebih mengedepankan diplomasi dengan jalan menyamakan persepsi dan rasa di atas meja makan yang tentu mengandung nilai maslahat tinggi dibanding kerahkan masa dengan acung-acungkan bendera Palestina dan bendera yang katanya panji-panji Islam.

Penulis rasa, terjadinya momentum diplomasi itu secara faktual membuktikan ketokohan Cak Imin di mata pemimpin negera-negara berpenduduk muslim itu tidak bisa diremehkan. Meski bahkan beberapa pihak yang “sok Arab” anggap beliau tak miliki rasa empati terhadap negera muslim, terlebih Palestina.

Silaturahim yang diluputi keakraban satu sama lain antara Cak Imin dan duta besar yang hadir sungguh mencairkan suasana meskipun pada saat yang sama pemberitaan media terkait itu terkesan “panas”.

Sebagai orang yang tidak sebentar berada di samping Gus Dur, Cak Imin khatam betul tindak tanduk maha gurunya itu bagaimana berdiplomasi di tengah ketegangan yang meliputinya sehingga bisa merubah suasana menjadi guyub, tanpa sekat, cair sehingga endingnya menghasilkan satu kesepakatan bersama.

Sense of Care terhadap Palestina tidak melulu diukur dari banyaknya acungkan benderanya di jalanan atau di sebuah lapangan dibawah terik matahari kemudian bertakbir hingga keringkan tenggorongkan hingga timbulkan serak ditenggorokan. Kepedulian Cak Imin buktikan dengan berdiplomasi.

Zaman Now, begitu generasi millenial bilang, tak sedikit aksi turun kejalan kerahkan masa sebanyak-banyaknya seperti aksi #SavePalestina dengan kenakan atribut berbau Palestina hanya dijadikan komoditas politik sekedar raih simpasti publik saja. Hal demikian yang kurang disukai Cak Imin.

Bila tujuan aksi masa turun ke jalan orientasinya sekedar untuk blow up media supaya ia dianggap peduli, pada saat yang sama sesungguhnya ia cerabut esensi peduli itu sendiri karenanya ia hanya terksesan simbolistik, bukan esensial. Hal ini yang ingin dihindari Cak Imin dalam emban amanah konstitusi PKB.

Muballig Kemanusiaan

Apa yang dilakukan Cak Imin terkait diplomasi dengan dubes negara timur tengah adalah bagian dari sikap nyata teruskan Gus Dur dalam perjuangan tegakkan humanisme di semesta bumi ini tanpa terkecuali. Meminjam istilah Cak Imin dalam bukunya “Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur”, dalam konteks ini, Cak Imin berperan sebagai muballig kemanusian layaknya Gus Dur yang pernah semat titel ini.

Dalam buku itu, Cak Imin merinci tugasnya: Pertama, bangun kesadaran bahwa agama diturunkan ke bumi ini untuk kebaikan dan memudahkan kehidupan manusia beserta alam seisinya. Agama hadir bukan untuk memberi beban, menakut-nakuti atau tebar ancaman bagi agama lain.

Kedua, tebar pemahaman Islam dan agama-agama yang ada hanya merupakan salah satu bagian saja dari kehidupan masyarakat bangsa, bukan faktor tunggal. Karenanya, posisi dan ajaranagama tidak simbolis tetapi harus ditempatkan dalam fungsi komple-menter bersama nilai-nilai, ideologi atau kelompok  yang lain. 

Ketiga, tegaskan kepada publik bahwa norma-norma agama akan berfungsi efektif. Jika ia bisa menjadi etika sosial yang menyatu dengankesadaran masyarakat. Tanpa bisa menjadi etikasosial, norma-norma agama akan kehilangandimensi moral dan etisnya, sehingga manifestasikeberagamaan menjadi sangat kaku dan hitam-putih.

Keempat, sebarkan toleransi di internal dan di antara agama-agama itu sendiri. Tidak pernah merasa paling benar (truth claim). Toleransi yang sesungguhnya adalah adanya kesadaran dan kesediaan untuk menerima ajaran-ajaran luhur dari agama atau keyakinan berbeda. Dengan toleransi itulah, suasana damai dan dimanis bisa dijaga dan kemuliaan ajaran agama menampakkan wujudnya.

Kelima, mendedikasikan hidup untuk mewujudkan demokrasi dan tegaknya hak asasi manusia secara menyeluruh dalam kehidupan masyarakat bangsa. Bagi Cak Imin (layaknya Gus Dur), demokrasi merupakan manifestasi terbaik dari nilai-nilai luhur agama.

Dalam sistem demokrasi dimungkinkan umat dari berbagai agama, kepercayaan dan suku bisa bersatu untuk mewujudkan tujuan nasionalnya, serta terlindungi-nya hak-hak asasi manusia. Penulis kira, hal ini yang mendasari Cak Imin melakukan “urun rembug” bersama dubes negara timur tengah.

Dari kelima poin tadi, tak berlebihan kiranya bila antara Gus Dur dan Cak Imin disebut “kembar” dalam hal pemikiran dan tindakan. Yang masih berpikir Cak Imin “durhaka” kepada Gus Dur, kelaut aja!

Bagian akhir dari tulisan ini, penulis ingin sebut bahwa politik luar negeri Cak Imin layaknya politik luar negeri ala Gus Dur yang terkesan egaliter dan cair sehingga bisa menembus batas keumuman orang dalam berdiplomasi. Wallahu’alam bishawab

Penulis, Usep Saeful Kamal: Tenaga Ahli Anggota FPKB DPR RI, Anggota Divisi di LPP DPP PKB

Tags : Cak Imin ,