Cak Imin Sang Anti Mainstream

| Minggu, 31/12/2017 00:11 WIB
Cak Imin Sang Anti Mainstream Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar

JAKARTA, RADARBANGSA.COM - Penulis pertama kali mendengar nama Cak Imin di tahun 1999,  pada saat ikuti salah satu sesi kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Cipasung. Kala itu narasumber dari pengurus PB PMII (penulis lupa namanya) beliau beberapa kali sebut nama Muhaimin Iskandar.

Ternyata bukan hanya beliau saja yang sebut-sebut nama Muhaimin Iskandar, narasumber lain Kang Tatang Farhanul Hakim (mantan Ketua Umum PC PMII Tasikmalaya 1980-1986) yang kala itu menjabat Ketua DPRD Kab. Tasikmalaya pun beberapa kali sebut nama Cak Imin.
Karena rasa penasaran pada sosok nama yang disebut-sebut narasumber, suatu ketika berkunjung ke sekretariat PC PMII Tasikmalaya, tanpa sengaja penulis mendapatkan sebuah buku berisi tentang wacana paradigma kritis transformatif PMII dan lagi-lagi sebut nama Muhaimin Iskandar.

Disamping itu, tahun 2000 penulis mendapatkan wawasan lebih mendalam pada momen Pelatihan Kader Dasar (PKD) tentang paradigma tadi yang selalu kaitkan nama Muhaimin Iskandar. Materi wajib PKD ini disampaikan langsung oleh sahabat Nusron Wahid yang kala itu menjabat Ketua Umum PB PMII. Ia sitir nama Muhaimin Iskandar yang miliki kaitan historis dengan lahirnya gagasan paradigma krtis transformatif yang kemudian diadopsi PMII.

Tahun 2004 tak lama setelah diamanahi ketua umum PC PMII Kab. Tasikmalaya, penulis road show sowan kepada mantan-mantan ketua PC PMII sebelumnya. Diantaranya ke kang Tatang FH yang sejak tahun 2001 menjadi Bupati Tasikmalaya dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dari mulut beliau penulis mendapatkan banyak cerita tentang profil Cak Imin.

Berdasarkan pengakuannya, Cak Imin sudah akrab dengan sahabat-sahabat PMII Tasikmalaya sejak lama. Bahkan bila diundang kegiatan di Tasikmalaya ditengah kesibukannya sebagai Ketum PB PMII pasti beliau hadir meski harus naik bis malam atau kadang kereta ekonomi.
Lebih dari itu menurut cerita kang Tatang, Cak Imin adalah salah satu saksi sejarah rontoknya “taring” Soeharto sebagai simbol rezim orde baru yang gagal mengkooptasi kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar Cipasung tahun 1994 dengan terpilihnya Gus Dur sebagai Ketua Umum & KH. Moh. Ilyas Ruhiat sebagai Rois’am PB NU.

“Cak Imin salah satu pelaku sejarah yang merasakan langsung detik perdetik suasana mencekam pelaksanaan Muktamar NU dibawah tekanan rezim Soeharto kala itu karena pada saat yang sama beliau menjabat sebagai Ketum PB PMII dan bersama-sama Gus Dur melakukan “perlawanan” atas kelaliman orde baru terhadap NU”. Imbuhnya.

Tambahnya: “Sahabat-sahabat kader PMII Tasikmalaya kala itu singsingkan lengan baju atas komando Cak Imin untuk sama-sama suksesi Muktamar NU dengan Gus Dur sebagai pigur sentralnya dan disandingkan dengan KH. Moh. Ilyas Ruhiat untuk “tumbangkan” rezim orde baru yang seringkali tutup akses mereka terhadap NU terlebih kepada PMII”

Anti Mainstrem

Sejak di PMII, menurut pengakuan senior-senior PMII Tasikmalaya atau bahkan senior seantoro Indonesia mengenal Cak Imin sebagai anti mainstream. Mainstream menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti lifestyle (gaya hidup) atau benda yang lalu dijadikan kebiasaan yang sangat umum dilakukan oleh setiap orang.

Bila boleh penulis berpendapat, anti mainstream itu merupakan berprilaku ekstrim dan keluar dari kebiaasaan orang pada umumnya. Pendapat ini tidak berlebihan kiranya untuk membranding citra Cak Imin meski diantara para pembaca ada yang tidak sepaham dengan penulis, itu sah-sah saja.
Menurut yang pernah penulis baca, Paradigma Kritis Tranformatif yang digagas Cak imin di PMII secara faktual dan operasional bertujuan menghantarkan caracter building warga pergerakan dengan pendekatan teorti kritis terlebih ketika hendak melihat, menganalisis, dan menyikapi sebuah persoalan.

Disitu nampak jelas perbedaan sikap dan karakteristik kader PMII dengan organisai ekstra kampus lainnya ketika mengusung sejumlah gagasan seperti demokratisasi, civil society, penguatan masyarakat vis a vis negara yang otoriter. Sebagai junior Cak Imin di PMII, dan kader beliau di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), tak berlebihan kiranya bila pemikirannya dapat dikenali dalam melihat dan melakukan analisis terhadap suatu masalah, selalu diluar keumuman orang, unik & nampak tidak rigid atau kaku.

Bagaimana cara beliau melihat “realitas”, menyusun teori, membuat rancang bangun pemikiran, hingga pada ranah aksi dan solusi yang diambilnya. Pijakan pemikiran dan gerakannya selalu bertumpu pada “aras” kritis-transformatif, ini yang penulis sebut sebagai anti-mainstream. Wajar kiranya bila beberapa tokoh sekelas Eros Jarot dan tokoh nasional lain dalam testimoninya sebut Cak Imin sebagai “anak nakal”.

Delapan fakta Cak Imin sebagai anti maistream seperti meme yang tersebar luas di jejaring media sosial. Secara berurutan beliau menjadi inisiator, antara lain: May Day, Hari Santri Nasional, Nusantara Mengaji, Liga Santri Nusantara (LSN), Liga Desa Nusantara (LDN, Liga Pekerja Indonesia (LPI), Pasar Murah, dan Satgas TKI.

Inisiator May Day. Peringatan 1 Mei sebagai hari buruh internasional, lebih dikenal dengan May Day di era reformasi setiap tahunnya identik dengan demo buruh yang menuntut 1 Mei dijadikan hari buruh dan hari libur nasional. May Day terwujud menjadi hari libur nasional tahun 2013 kala Cak Imin menjabat Menteri Ketenagakerjaan & Transmigrasi.


Lalu inisiator Hari Santri Nasional. Tahun 2015 Pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Tanggal ini menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad, bukti nyata adanya keterkaitan antara santri dengan daulat Indonesia. Hari Santri adalah wujud penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri.

Selanjutnya inisiator LSN, LDN dan LPI. Kompetisi sepak bola untuk menggali bakat terpendam pesebak bola baik santri, remaja desa dan pekerja yang minim akses dan kesempatan untuk dihantarkan menjadi atlet profesional. Inisiasi Cak Imin ini kemudian digelar atas kerjasama Kemenpora, Kementerian Desa PDTT dan Kemenakertrans yang notabene menterinya kader PKB.

Kemudian inisiator Nusantara Mengaji. Gerakan ini sebagai ikhtiar bermunajat memohon pertolongan kepada Allah agar dijauhkan dari segala bala` serta diberi kekuatan untuk mampu mengatasi persoalan bangsa, demi terwujudnya keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bangsa Indonesia melalui khatamana Al-Qur’an.

Pewaris Gus Dur

Delapan fakta Cak Imin seorang anti mainstream tadi sangat kontras dengan cara berpikir, bertindak dan mengambil keputusan seorang guru bangsa, yakni Gus Dus sebagai pendahulu sekaligus maha guru beliau di PKB.

Pemilu 2009 adalah masa sulit bagi PKB karena dilanda konflik internal dan dualisme kepemimpinan sehingga perolehan suaranya anjlok ke angka 5.146.122 dengan 27 kursi DPR RI dari angka 11.989.564 dengan 52 kursi DPR RI pada Pemilu 2014.
Penulis rasakan betul kala itu terlibat suksesi Pemilu 2009 di DPC PKB Kab. Tasikmalaya dan bertindak sebagai tim sukses salah satu calon anggota legislatif. Persinggungan antar elit PKB di Jakarta juga terasa hingga Kab. Tasikmalaya meski tidak mengurangi satupun kursi dari 5 kursi pada perolehan pemilu 2004.

Lebih dari itu, nama Cak Imin menjadi bulan-bulanan dan sasaran cacian konstituen PKB yang tidak paham persoalan sehingga menganggapnya sebagai “anak durhaka” Gus Dur. Yang lebih parah lagi, isu itu dihembuskan oleh pengurus yang menganggap dirinya “loyalis sejati” Gus Dur.
Tanpa bermaksud menggores luka lama PKB, serpihan histori ini sengaja penulis ungkap supaya terang benderang siapa sesungguhnya loyalis Gus Dur dan “penjilat” Gus Dur yang centang perenang hingga akhirnya lenyap ditelan zaman.

Pemilu 2014 adalah bukti bahwa PKB dibawah tongkat komando Cak Imin tidak larut pada masa lalunya yang dianggap “suram” tetapi optimis menata masa depan. Walhasil PKB memperoleh suara 11.298.957 dengan 47 kursi DPR RI nyaris kembalikan suara PKB pada pemilu 2014.
Sebagai kader yang diamanahi di Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) DPC PKB Kab. Tasikmalaya pada Pemilu 2014, penulis merasakan betul perbedaan situasi dengan pemilu sebelumnya. Anasir-anasir konflik disulap Cak Imin dengan kelihaiannya meramu strategi jitu yang berefek positif pada kerja-kerja suksesi pemenangan hingga level TPS.

Penulis kira tidak ujug-ujug, cara Cak Imin bertindak, cara melihat “realitas”, menyusun teori, membuat rancang bangun pemikiran, hingga pada ranah aksi dan solusi yang diambilnya tak beda dengan Gus Dur yang dengan “modal dengkul” bisa menjadi Presiden. Tak berlebihan kiranya bila penulis anggap Cak Imin sebagai pewaris pemikiran dan gerakan Gus Dur.

Satu hal, antara Gus Dur dan Cak Imin tidak pernah menganggap keterbatasan sebagai hambatan utuk menjadi unggul. Oleh keduanya seringkali keterbatasan itu diramu dengan apik sehingga menjadi sebuah pertunjukan yang asyik dan sangat dinanti untuk dinikmati. Sebagai Gus Durian dan Cak Iminian penulis layak menjadikan keduanya sebagai inspirasi hidup. Cak Imin yang menjadi pimpinan DPR termuda dan hingga kini belum ada yang menyainginya tentu inspiratif. Terlebih cara beliau “nahkodai” PKB jelang Pemilu 2019 ini, keren.

Ala kulli hal, penulis hanya rawat nasehat Alm. KH. Moh. Ilyas Ruhiat (deklarator PKB) setiap melepas wisudawan dan santri Ponpes Cipasung: “Mohon sebar seluas-luasnya setiap kebaikan kami, apabila ada keburukan mohon tabayyun ke kami”. Mafhum muwafaqah-nya, sebagai kader PKB penulis berkewajiban menebar setiap energi positif pimpinannya, bila tak berkenan mohon tabayyun langsung ke beliau”. Wallahu a’lam bissowab.

Opini ditulis oleh Usep Saeful Kamal, Tenaga Ahli Anggota FPKB DPR RI, Anggota Divisi di LPP DPP PKB

Tags : Cak Imin