Menjawab Polemik Ziarah Kubur Cak Imin

| Rabu, 28/03/2018 09:06 WIB
Menjawab Polemik Ziarah Kubur Cak Imin Cak Imin didampingi Pimpinan MPR RI FPKB saat berziarah ke makam Taufiq Kiemas (dok @cakimiNOW)

RADARBANGSA.COM - Pertangal 25 Maret 2018, tepatnya hari Ahad sehari sebelum pelantikan pimpinan MPR baru, kedatangan Cak Imin ke taman makam Pahlawan Kalibata untuk berziarah ke makam Pak Taufiq Kiemas rupanya berbuntut panjang. Meme bertebaran dengan tuduhan melakukan tindakan musrik, dan menjadi bahan diskusi kalangan intelektual di grup-grup Medsos hingga warung-warung kopi kelas mahasiswa.

Ziarah kubur dalam pandangan Islam adalah hal yang diperbolehkan, bukan sesuatu yang haram apa lagi sampai dikatagorikan musrik. Cak Imin sebagai seorang santri, beliau memiliki pengetahuan cukup akan segala hal yang dilarang dan masuk katagori haram dalam agama. Sebagai seorang Hafiz Quran, pengetahuan beliau pasti akan mencegah beliau melakukan tindakan musrik itu tidak perlu diragukan.

Doa dan sedekah menurut Syarh Imam Nawawi (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XI, hal 122 – 123), itu sampai kepada mayit. Kedatangan Cak Imin untuk berziarah sebagai bentuk penghargaan dan mengingat jasa pak Taufiq Kiemas, yang dianggap sebagai Guru, tokoh inspiratif dan orang tua yang telah mengajarkan Cak Imin banyak hal dalam Politik, yang telah dikenal baik sejak masih menjadi Mahasiwa di UGM.

Selain itu ada spirit pak Taufiq Kiemas sebagai mantan ketua MPR, yang menurut pandangan Cak Imin adalah salah satu pimpinan MPR yang mampu menenangkan, merekonsiliasi semua pertentangan dan perbedaan di tengah bangsa. Spirit inilah yang ingin diserap oleh Cak Imin. Ini disampaikan Cak Imin setelah berziarah ke makam pak Taufiq Kiemas di teras Taman Makam Pahlawan. Semua yang telah di sampaikan oleh Cak Imin bisa dilihat videonya di beragam portal berita online di Google.

Gus Dur adalah pribadi yang menjadi perekat bagi keanekaragaman di tengah bangsa ini. Saat Gus Dur meninggal dunia, bangsa ini masih punya pak Taufiq Kiemas yang meneruskan peran menjadikan dirinya sebagai penenang, perekat akan sekian banyak perbedaan di tengah bangsa ini. Namun setelah pak Taufiq Kiemas meninggal dunia, tidak lagi ada tokoh yang mampu mengambil peran itu, untuk menyatukan beragam kepentingan anak bangsa.

Energi-energi baik dan luar biasa dari 2 tokoh bangsa yang memiliki kedekatan personal dengan Cak Imin inilah yang ingin diserap Cak Imin dengan ziarah kubur. Saya meyakini Cak Imin akan mampu melanjutkan apa yang sudah di lakukan Gus Dur dan Pak Taufiq Kiemas bagi bangsa dan negara ini, menjadi perekat dan merekonsiliasi serpihan-serpihan kelompok anak bangsa untuk bisa di jadikan kekuatan besar dengan tujuan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat sesegerah mungkin.

Saya ingin Kutipkan hadist tentang ziarah kubur, bagaiman Rasullulah mengajarkan hal ini pada para sahabatnya, sebagaiman dirawihkan oleh salah satu perawi Hadist Buraidah Bin Hushaib yaitu : ”Rasulullah saw mengajari mereka apabila keluar menuju pemakaman hendaklah mengatakan ;

‎السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ َلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Artinya “Semoga kesejahteraan bagi kalian wahai para penghuni kubur dari kalangan mukminin dan muslimin. Dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul. Aku meminta kepada Allah keselamatan buat kami dan kalian.” (HR. Muslim).

Selain hadist di atas saya ingin mengutipkan pernyatan Ketum Muhamdiyah pertanggal 30 Oktober 2017 yang disampaikan melalui web resmi MUHAMMADIYAH.OR.ID, di Yogyakarta. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mengatakan Bahwa "Ziarah kubur itu sunnah Nabi seperti sunah Nabi lainnya, untuk mendoakan dan ingat mati atau ingat akhirat”.

Jadi kesimpulannya, apa yang dilakukan Cak Imin untuk datang berziarah ke makam pak Taufiq Kiemas adalah bentuk sunnah Nabi. Serta spirit politik pak Taufiq Kiemas selama memimpin MPR inilah yang ingin diserap oleh Cak Imin sebelum beliau dilantik sebagai bagian dari pimpinan MPR.

Terkait pernyataan mohon izin pada Taufiq Kiemas untuk menjadi wakil presiden pak jokowi, itu adalah simbolisasi politik untuk menyampaikan dengan cara yang elegant ke publik dan PDI tentunya, bahwa semoga kedekatan hubungan personal selama ini bisa menjadi pertimbangan bagi ibu Megawati dalam mengambil keputusan penting bagi masa depan bangsa dan negara ini kedepan.

Saya akan menutup tulisan ini dengan mengutip salah satu ayat Alquran, tentang sanjungan Allah swt kepada orang-orang beriman yang datang kepada sodara-sodara sesama muslimnya kemudian mendoakan mereka dengan doanya :

‎وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya : ”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10).

NOURA FADHILAH

Tags : Cak Imin , Taufik Kiemas , Gus Dur