Surat Cinta Untuk Jokowi, Menjawab Tudingan “Kawin Paksa”

| Minggu, 01/04/2018 09:01 WIB
Surat Cinta Untuk Jokowi, Menjawab Tudingan “Kawin Paksa” Cak Imin saat menghadiri jamuan makan siang dan ngopi bersama Presiden Jokowi di Istana Negara (dok setkabgoid)

RADARBANGSA.COM - Surat cinta ini sengaja baru dituliskan malam ini, menunggu datangnya malam Minggu. Menunggu hampir semua pihak menunjukkan reaksinya. Karena ini surat cinta, pastilah akan banyak berbicara tentang rasa dan perasaan. Mulai dari pemberitaan yang arahnya menyudutkan Ketum PKB yaitu Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, hingga twett “agresivitas dikaitkan dengan filosofi Jawa”.

Mungkin yang menulis Tweet tersebut tidak tahu definisi dari kata agresivitas.
Menurut Baron dan Byrne (1984), bahwa agresivitas adalah dorongan dasar yang dimiliki oleh manusia dan hewan, dengan tujuan menyakiti badan atau melukai perasaan orang lain.

Berdasarkan defisini diatas, rasa-rasanya tidak ada satu pun dari tingkah laku Ketum PKB yang bisa didefinisikan sebagai bentuk agresivitas. Dan mungkin yang menulis tersebut juga tidak baca berita dan tidak melihat tayangan berita di televisi.

Karena jika baca dan lihat berita, maka pastinya akan tahu bahwa kader-kader partai, para ulama dan Kiai-lah yang mendorong Ketum PKB untuk maju dalam kontestasi Pilpres di 2019 sebagai representasi NU. Bukan keinginan pribadi Cak Imin, Tapi lahir dari dorongan banyak pihak.

Demi menjaga perasaan dan sopan santun kepada mitra koalisi yaitu presiden Jokowi dan semua pendukungnya serta keluarganya, maka dalam setiap baliho dan spanduk dituliskan calon wakil presiden bukan calon presiden.

Jika sudah seperti ini, namun masih saja dipersepsi dengan beragam analisa dan nyiyiran, lantas pilihan apa yang bisa diambil untuk mengajarkan secara langsung dengan contoh sikap pada generasi muda bangsa ini?

Bahwa tetap harus ada etika dalam berpolitik, ada keharusan menjaga hati dan perasaan pihak lain dalam setiap sikap dan tindakan yang akan kita lakukan, itu adalah bagian dari budaya kita bangsa Indonesia. Legacy ini lah yang ingin di sampaikan dengan pilihan sikap PKB, bukan bentuk tekanan apa lagi meminta “kawin paksa”.

Bapak Presiden Jokowi yang tercinta, Cinta PKB dan Ketum PKB pada bapak, itu bukan baru setelah bapak terpilih sebagai presiden. PKB dan Cak Imin sudah menemani bapak berjuang sejak 2014, dan itu fakta sejarah.

Cinta PKB dan Cak Imin pada Bapak itu bukan seperti Cinta partai lain yang bersyarat, dan baru merapat setelah bapak terpilih sebagai presiden. Bahkan ada yang dulunya memilih sikap netral dan bahkan “membelot” saat bapak tengah berjuang, lalu sekarang begitu kepincut dan dari kabar-kabar angin yang berhembus, mendorong kader-kadernya untuk digandeng sebagai wakil.

Dukungan PKB di 2014 adalah dukungan tanpa syarat, atas dasar cintalah kami bersama dan menemani bapak hingga hari ini.

Besar kemungkinan di 2019 PKB juga akan tetap bersama bapak, mengingat hubungan baik yang sudah terbangun selama ini, baik dengan bapak presiden jokowi dan juga dengan ibu Megawati, untuk menemani berjuang di periode kedua. Akan tetapi sikap resmi PKB baru akan dikeluarkan setelah akhir Juni, menunggu petunjuk langit setelah Ramadlan.

Selama ini yang dilakukan PKB dengan semua upayanya adalah bentuk rasa cinta dan ekspresi cinta. Tidak pernah ada tekanan apalagi niat “kawin paksa”. Secinta apapun PKB pada bapak, pilihannya bukan ada pada PKB, yang memegang kendali pilihan dengan siapa bapak akhirnya memutuskan untuk “menikah” itu sepenuhnya ada di tangan bapak presiden sendiri.

PKB ibarat istri tua yang mulai kehilangan pesona dan daya tariknya berangkali, namun jika pada akhirnya para “daun muda” lebih menarik untuk bapak “nikahi”, itu juga pilihannya ada pada bapak Presiden sendiri. Namun satu yang kami bisa dipastikan, jika bapak tetap bersama “istri tua”, tentunya kesetiannya tidak perlu diragukan, dan pengalamannya selama ini dalam mengelola rumah tangga negara telah terbukti dengan sekian banyaknya pengalaman.

Menikahi daun muda yang minim pengalaman namun menang pencitraan ini memiliki resiko besar bagi negara, dan bukan berarti yang terlihat manut dan nurutan sebelum “dinikahi” itu akan terus menjadi penurut setelah dinikahi.

“Kawin Paksa” itu adalah bentuk perkosaan yang paling menyakitkan pada nalar berpikir manusia. Tidak ada siapapun yang akan nyaman menjalani “kawin paksa”. Untuk apa raga bersama jika hati dan perasaan tidak bersama. Jadi rasa-rasanya PKB dan Ketum PKB pastinya tidak akan pernah meminta untuk “dikawin” secara paksa oleh bapak presiden.

Jika pada akhirnya bapak memilik tetap bersama istri tua, syarat utamanya adalah rasa cinta dan keterikatan hati satu sama lain, tanpa tekanan atau paksaan dari pihak manapun. Agar “rumah tangga” negara ini bisa kita berjalan harmonis untuk di urusi bersama, untuk mecarikan solusi terbaik atas setiap persoalan dan tantangan yang hadir di tengah bangsa.

NOURA FADHILAH

Tags : Cak Imin , Jokowi , Cawapres