NU Kuat karena Cinta Kasih

| Rabu, 11/07/2018 12:05 WIB
NU Kuat karena Cinta Kasih KH. Maman Imanulhaq saat memberikan ceramah di Binong, Subang 27/12/17 (foto: Istimewa)

RADARBANGSA.COM - Setiap bertemu Kang Wawan Arwani,  panggilan hangat kami kepada Ketua Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon KH. Wawan Arwani,  selalu ada kisah, nama dan spirit yang menautkan kesejarahan Pesantren dan NU secara erat dan mengandung nilai spiritualitas.

Dari penjelasan Kang Wawan, juga sesepuh kami KH. Amin Siroj Gedongan dan KH. Hasan Kiryani Buntet,  dapat disimpulkan bahwa NU itu kuat karena beberapa hal,  antara lain:

Pertama, NU didirikan oleh Ulama dengan penuh keikhlasan, kecerdasan dan kebersamaan demi menjaga Islam Ahlussunah wal Jamaah dan nilai kebangsaan.  Nasionalisme bagi NU adalah keniscayaan dalam beragama.

من ليس له ارض ليس له تاريخ من ليس له تاريخ ليس له تذكرة

Artinya: Yang tidak punya tanah air,  tidak punya sejarah. Yang tidak punya sejarah akan mudah dilupakan.

Kedua, NU menghadirkan Islam sebagai agama yang sempurna: menguatkan aqidah, menyebarkan syariah, membumikan akhlak karimah, dan mengokohkan nilai peradaban kemanusiaan.

Yang dipakai NU adalah kekuatan logika dan dialog, bukan logika kekuatan apalagi kekerasan dan teror.

Ketiga, NU menjadi rumah bersama kaum Pesantren. Sehingga pertautan sejarah antar Kiai dan antar pesantren menjadikan NU kuat secara Ukhuwah Nahdhiyyah. Pemilik saham NU adalah pesantren yang di dalamnya ada hubungan geneologi keilmuan dan kekerabatan. 

Maka, jangan heran kalau ada yang menyulut sumbu pepecahan di NU akan kecewa. Karena NU bukan sumbu pendek, bahkan NU tidak punya sumbu. Yang ada adalah ruhani yang kokoh dan nilai ukhuwah yang terus menyatu.

Keempat, NU adalah gudangnya para alim yang menguasai khazanah keilmuan Islam secara kaffah, tidak sepotong-sepotong. Tetapi Ulama NU dengan kealimannya tetap rendah hati, bijak dan mengayomi.

Saya beruntung hidup di Pesantren dan mendapatkan kasih sayang para Kiai. Saya ambil contoh:

  1. Saat di Baitul Arqom Al Islami Leumburawi Ciparay Bandung, Kiai Ali Imron selalu bilang, "De, guru itu orang tuamu. Nasihat bahkan marah yang kami ungkapkan padamu adalah ungkapan rasa sayang".
  2. Respon yang mengejutkan saat ada tokoh radikal Cirebon, matur ke Kiai Fuad Hasyim Buntet, "Kiai, tolong tegur Ustadz Maman dkk yang terlalu dekat dengan non muslim di Forum Sabtuan, bahaya bagi umat Islam". Kiai Fuad komen, "Maman itu anak saya, kalau benar akan saya dukung.  Kalau salah, tugas saya menasehatinya. Yang pasti, saya yakin ukhuwah wathoniyah itu tidak merusak aqidah".
  3. Hal yang sama dilakukan para Kiai Sepuh NU yang selalu menasehati tapi sekaligus memberikan pembelaan bila ada anak muda NU yang dianggap "terpeleset".

Saya merasakan pengertian dan nilai kasih sayang itu termasuk dari Rais Aam KH. Ma’ruf Amin, Ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, Gus Mus dan banyak lagi Sesepuh NU.

NU kuat karena nilai Cinta dan Kasih sayang.

Bahagianya jadi orang NU.  Al-Fatihah.

 

KH. MAMAN IMANULHAQ
Ketua LDNU

Tags : Maman Imanulhaq , NU , Cinta