Lomba Cerpen Santri 2018

Karena Itu

| Jum'at, 09/11/2018 18:41 WIB
Karena Itu Dok Radarbangsa

Oleh: Tirozatul Khoiriyyah

RADARBANGSA.COM - Namaku Haniful Luthfi, aku santri tertua di ponpes ini. Bertahun-tahun aku hidup di bangunan tua ini. Belajar, menghafal al-quran, pengajian kitab kuning, itu makananku setiap hari. Ketika mereka asyik membicarakan kaum hawa, aku hanya terdiam dan tak berkomentar apa-apa, aku tak paham tentang itu, bahkan aku takut dengan kaum itu.

Di tempat ini hidupku sangatlah monoton, tak berani merubah langkahku sebelum beliau mengutusku. Aku yakin dengan pilihanku ini, karena aku tau kepompong pasti akan menjadi kupu, di sini aku berfikir kaum hawa itu seperti bayangan “Bayangan itu nggak akan pernah bisa tepat di bawah kita, meskipun kita sudah jauh mengejarnya tapi, bayangan akan di bawah kita jika matahari sudah tepat di atas kepala kita.”

Nang kesini nang!” terdengar  suara abah memanggilku. Aku pun bergegas untuk menghadap beliau. “Nggeh wonten nopo...? “  “Begini nang, ini nanti akan ada acara jamiyyah bulanan, tempatnya di ndaleme abah Ulin, badanya abah iki agak nggak kepenak... tulung mengko seng nekani awakmu wae  ya...! Mengko abah salamke mawon sama abah Ulin. Aku pun meyetujui ucapan beliau. “Nggeh bah...”

Tepat pukul 16.00 aku berangkat dari pondok, ku kayuh sepedaku dengan penuh semangat. Selang beberapa waktu tibalah aku di sana. Ku parkirkan sepeda ini dan ku bergegas menuju ke ndalem beliau. Setttt...... langkahku terhenti, badanku terasa gemetar jantungku berdegup kencang. Aku melihat KH. Ahmad Mustofa (kyai kondang,idolaku) beliau sedang berjalan  dengan digandeng putrinya.

“Sungguh cantik” Astagfirullah, seketika kutundukkan pandangan ini, rasanya sangat berat tapi, “Ingat Hanif neraka sangatlah panas.” Kata itu ku ulangi terus-menerus dalam hatiku, ku berfikir dengan cara itu nafsu ini tetap tertahan di habitatnya.

Malam ini tak seperti biasanya pikiranku tak fokus. Hafalanku berlarian, entah kemana tali pengikatnya. Kusudahi dulu hafalanku, karna percuma, saat ini diriku sedang kacau. Ku terus berpikir mencari sebab apa diriku seperti ini. “Kejadian tadi sore?” terbesitlah pertanyaan itu dibenakku.  “Apa gara-gara habis ketemu kyai Mustofa? Rasanya tak mungkin kalau  gara-gara hal itu saja. Rasa  ini tuh bebeda...!!!”

Baca selengkapnya di sini

Tags : Hari Santri 2018 , Cerpen Santri , PKB