Lomba Cerpen Santri 2018

Cobaan yang Berubah Menjadi Anugerah

| Jum'at, 09/11/2018 18:45 WIB
Cobaan yang Berubah Menjadi Anugerah Dok Radarbangsa

Oleh: Siera Annadiya

RADARBANGSA.COM - Seluruh duniaku seakan berhenti, mimpi-mimpiku kandas. Aku membenci mereka, papa, mama, aku muak dengan semua ini! Aku membenci takdir yang mengharuskanku mengubur dalam-dalam semua mimpiku, semua cita-citaku telah terkubur bersama rencana yang telah tersusun rapi dan yang aku harapkan indah. Ingin rasanya aku berteriak mengatakan dengan tegas penolakan itu, ingin pergi jauh ke planet lain agar bisa bebas dari semua yang memaksa.

Aku tidak suka kekangan, aku tidak suka paksaan, tapi aku tidak bisa menolak hal itu. Tidak mungkin! Aku memang bukan anak baik-baik, bahkan sangat jauh dari kata sholihah. Tidak jarang, aku membantah siapapun yang menghalangiku,tidak terkecuali papa mamaku. Aku hanya seorang anak yang beranjak dewasa yang ingin menentukan tujuan hidupnya sendiri,tapi aku juga seorang anak yang  harus mematuhi kedua orang tua, seorang anak yang harus rela berkorban demi kebahagiaan mereka, meski harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Aku juga seorang anak yang tentu masih punya hati yang tidak akan sanggup melihat kabut hitam terus menggelayuti wajah tegar tegas papa dan wajah ayu lembut mama. Itu tidak akan pernah aku lakukan. Yang perlu kalian tahu, aku orang pertama yang akan berdiri paling depan, membabat habis siapa saja yang menyakiti mereka. Harusnya mereka tahu alasan terkuat aku menentang keras keputusan mereka “Adalah aku tidak pernah ingin jauh dari mereka barang sebentar!”

“Maafkan papa Sa, bukan maksud papa mau kamu jauh dari kita nak, ini semua demi kebaikanmu. Dunia luar sudah tidak terjaga lagi nak, pendidikan setinggi dan sehebat apapun jika tanpa dasar agama itu tidak akan berguna dengan baik.Sama seperti kapal, sebagus dan semewah apapun kapal itu, setinggi apapun kapal itu, tentu tidak akan bisa berjalan tanpa nahkoda. Begitu juga hidup. Kami memaksamu mondok bukan tanpa alasan. Agar kamu memiliki pegangan hidup dan hidupmu akan terarah. Insya Allah.” Suara papa bergetar, aku tahu ia sedang menahan tangisnya.

Baca selengkapnya di sini

Tags : Hari Santri 2018 , Cerpen Santri , PKB