Telaah Jurus Politik Gus Muhaimin

| Senin, 12/08/2019 18:21 WIB
Telaah Jurus Politik Gus Muhaimin Nur Faizin. (doc. Istimewa)

Oleh: Nur Faizin*

Jika kita screening tokoh-tokoh politik di Indonesia hari ini, nama Gus Muhaimin (panggilan akrab Abdul Muhaimin Iskandar) menjadi salah satu nama yang cukup kesohor dalam meja catur ruang publik politik, baik di media sosial maupun di platform-platform media yang lain. Setelah muncul dengan daya kejut narasi ketua MPR, wacana 10 menteri, tiba-tiba membawa puluhan pengurus wilayah PKB dari seluruh daerah di Indonesia ke Istana Negara, dan kemudian berlanjut sowan ke KH. Ma’ruf Amin, memperlihatkan sebuah langkah kuda politik yang cukup tandas dan sulit ditebak. Bahkan akhir-akhir ini menguat wacana aklamasi seluruh pengurus PKB di Indonesia untuk mendukung kembali dirinya menjadi orang nomor satu di partai yang lekat dengan NU tersebut pada Muktamar PKB di Bali, 20-22 Agustus yang akan datang.

Pandangan seluruh pengurus PKB di daerah menjadi ketua umum kembali tentu saja bukan berangkat dari ruang kosong. Dalam pandangan KH. Umaruddin Masdar (2019), Gus Muhaimin telah berhasil melakukan sedikitnya tiga transformasi internal partai secara tuntas. Berhasil menuntaskan transformasi PKB sebagai sayap politik NU, sebagai partai Islam moderat-nasionalis, dan membangun dasar-dasar yang kokoh bagi PKB untuk menjadi saluran aspirasi semua golongan. Modal ini meniscayakan dirinya menjadi salah satu tokoh yang cukup diperhitungkan dalam eskalasi kepemimpinan nasional baik di Indonesia secara umum dan PKB secara khusus.

Bukan Sekedar Angka
Kontestasi politik, pada akhirnya adalah hasil akhir dari sebuah angka. Dalam pemilu 2019, Gus Muhaimin berhasil membawa PKB melampaui perolehan masa emas pada Pemilu 1999. Pada Pemilu 1999 PKB mendapat suara 13.336.982 (52 kursi DPR RI), dan pada 2019 suara PKB naik menjadi 13.570.097 (58 kursi DPR RI). Angka yang cukup fantastis di tengah kecenderungan mengerutnya interest publik terhadap entitas politik di Indonesia. Akan tetapi, keberhasilan menaikkan suara secara kuantitatif, bukanlah satu-satunya alasan tentang dedikasi politiknya yang cukup fantastis, yang tidak kalah pentingnya, branding politik PKB telah bersemayam dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia terutama bagi mereka kaum muda, kaum pemula dalam politik.

Sejak dipimpin Gus Muhaimin, haluan PKB berubah drastis, tampak modern, muda, dan lentur. Sentuhan reformasi struktur, gagasan kebangsaan, dan sejenisnya merupakan sederet modal politiknya yang cukup gamblang. Ketika selama ini PKB cenderung dipersepsikan sebagai partai dengan ruang ideologis yang sempit, yakni Islam tradisionalis yang jauh dari jangkauan kaum elite dan kelas menengah ke atas, yang sedikit memicu ketegangan politik sektarian dalam imajinasi kolektif masyarakat Indonesia yang majemuk, namun kini imajinasi dan persepsi tersebut mulai runtuh. Sebab platform PKB telah mencerminkan sikap akomodatif di luar internal konstituen NU.

Penataan Sistem Politik
Langkah politik yang dilakukan oleh Gus Muhaimin, secara sosio-politik, mencerminkan mekanisme kerja politik berupa developmental approach. Sebuah pendekatan pengembangan politik bagaimana sistem politik yang digunakan mampu mengorbitkan mekanisme penataan kelembagaan partai yang terbaik, dan pada saat yang sama mampu mengembangkan sistem politik tersebut secara benar, tepat, dan terarah. David Easton (1965) dalam bukunya bertajuk the Political System, A Framework for Political Analysis and System Analisis of Political Life, secara paradigmatik menyebutkan bahwa sistem politik yang tepat dalam sebuah partai politik dikonteks-kan pada sumbangan-sumbangan tertentu melalui mekanisme masukan-masukan (inputs) berupa pengalaman, pengetahuan, kearifan, kecakapan yang kemudian direpresentasikan melalui mesin ideologi. Pada saat yang sama sistem politik tersebut juga tercermin dari kemampuannya penuntaskan berbagai masalah-masalah politik yang tidak produktif di batang tubuh partai maupun dalam sebuah narasi berbangsa dan bernegara.

Keberhasilan menata sistem politik ini tampak dari kemampuannya dalam membumikan semangat politik PKB yang merupakan cerminan dari semangat politik rahmatan lil alamin terutama di tengah menguatnya sentimen polarisasi politik yang destruktif dan kental dengan aroma politik identitas yang begitu getas. Kemampuan Gus Muhaimin dalam konteks penataan sistem politik tercermin dari cara ia merevitalisasi ideologi pluralisme dalam batang tubuh PKB sebagai partai dengan nafas Islam moderat. Melalui jalan ini PKB telah menjelma menjadi partai politik yang tampak lekat dengan kemajemukan, inklusif, dan merangkul semua golongan sesuai dengan setting kebhinekaan Indonesia. Kemajemukan dan perbedaan tersebut kemudian dikukuhkan dalam satu visi, cita-cita hidup, semangat demokrasi, untuk membangun Indonesia yang bermartabat, berkeadilan, dan berkeadaban lahir dan batin.

Kepemimpinan Gus Muhaimin merupakan bagian penting dari sistematisasi ideologi pluralisme menjadi condition sine qua non. Upaya-upaya ini terus dilakukan dan ditransmisikan kepada seluruh kader, konstituen, dan masyarakat luas. Kemampuan ini dilakukan dalam desain politik dalam menciptakan partisipasi dan kesadaran publik (Hasbul, 2014). Sehingga di akar rumput kerja-kerja ini telah mampu menciptakan jangkauan dan apresiasi pluralisme yang memberdayakan dan mendewasakan seluruh kader, simpatisan PKB, dan masyarakat luas.

Sebagai partai yang menjunjung semangat pluralitas, PKB di bawah kepemimpinan Gus Muhaimin giat melakukan langkah yang riil dalam mendorong implementasi pluralitas di tengah-tengah kehidupan masyarakat arus bawah. Langkah taktis tersebut tidak sebatas mencerminkan sikap politik an sich, tetapi sekaligus menunjukkan bagaimana dinamika politik PKB selalu mampu menjawab masalah kebangsaan dalam setiap ruang dan waktu (Sholihun Likulli Zaman Wamakan).

Langkah-langkah ini menjadi salah satu pembeda dari partai-partai Islam lainnya. Sebuah kerja-kerja politik yang menjunjung semangat kaderisasi, advokasi, dan tradisi yang genuine dalam kerangka mendorong martabat politik Indonesia lebih beradab. Sehingga berdasarkan rekam jejak ini, kehadirannya untuk menahkodai kembali perahu politik PKB menjadi langkah paling tepat, terutama untuk membawa partai ini kembali berlayar menerjang gelombang dan menjemput asa di samudera kebangsaan yang lebih luas.

*Nur Faizin: Alumnus Pascasarjana Sosiologi UGM dan Kowil Madura DENSUS 26 (Pendidikan Khusus Dai Ahlussunah wal Jamaah 1926)

Tags : Gus Muhaimin , Nur Faizin , Jurus Politik , PKB