RADARBANGSA.COM - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai sekitar 5,4 persen pada tahun 2026, didukung oleh meningkatnya permintaan domestik meskipun kondisi global masih penuh ketidakpastian, termasuk tekanan pasar dan gejolak geopolitik. Proyeksi ini disampaikan dalam konferensi pers KSSK di Jakarta yang dihadiri otoritas terkait sektor keuangan dan fiskal nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa permintaan domestik yang kuat menjadi pendorong utama pertumbuhan, meskipun volatilitas di pasar global meningkat sejak awal tahun.
“Kami melihat permintaan dalam negeri tetap kuat dan menjadi kekuatan utama dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026,” ujar Purbaya bersama anggota KSSK dalam konferensi pers yang dipantau secara virtual (28/1/26).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menyampaikan optimisme serupa, bahwa stabilitas makroekonomi seperti inflasi yang terkendali dan arus investasi yang lebih baik akan membantu perekonomian bertahan di tengah tekanan eksternal, termasuk ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Proyeksi BI menunjukkan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berada dalam rentang positif dan menunjukkan arah pemulihan yang lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, pertumbuhan 5,4 persen itu juga didukung langkah koordinatif antara Bank Indonesia, pemerintah, dan otoritas lain untuk mendorong konsumsi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja. KSSK menyatakan akan terus memantau kondisi ekonomi secara terintegrasi dan melakukan langkah kebijakan bila diperlukan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.