Impor RI Melonjak 18,21 Persen pada Januari 2026

Senin, 02 Maret 2026 16:30 WIB
Petani Bawang Merah (Doc: Antara/Raisan Al Farisi)
Petani Bawang Merah (Doc: Antara/Raisan Al Farisi)

RADARBANGSA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar. Angka tersebut meningkat 18,21 persen dibandingkan Januari 2025, menunjukkan peningkatan kebutuhan barang dari luar negeri di awal tahun.

Berdasarkan keterangan resmi BPS, kenaikan impor terutama ditopang oleh sektor nonmigas. Nilai impor nonmigas pada Januari 2026 tercatat sebesar US$18,03 miliar atau naik 16,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BPS mencatat impor nonmigas tersebut meningkat sebesar US$2,58 miliar dibandingkan Januari 2025. Dari total tersebut, sepuluh golongan barang utama nonmigas menyumbang sekitar 60,10 persen atau senilai US$10,84 miliar dan mengalami kenaikan US$2,08 miliar atau 23,81 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi komoditas, peningkatan terbesar terjadi pada golongan mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya yang naik US$666,3 juta atau 29,54 persen dibandingkan Januari 2025. Selain itu, impor logam mulia dan perhiasan atau permata juga meningkat signifikan sebesar US$451,3 juta atau 152,50 persen.

Kenaikan impor juga terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya yang melonjak US$448,2 juta atau 1.288,48 persen, diikuti mesin atau peralatan mekanis dan bagiannya yang naik US$312,6 juta atau 12,09 persen. Beberapa komoditas lain yang turut meningkat antara lain berbagai produk kimia sebesar US$148,4 juta atau 38,69 persen serta serealia sebesar US$99 juta atau 37,53 persen.

Selain itu, impor kendaraan dan bagiannya meningkat US$57,3 juta atau 7,48 persen, sementara plastik dan barang dari plastik naik US$53,1 juta atau 5,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi negara asal, tiga pemasok terbesar impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 berasal dari Tiongkok dengan nilai US$7,89 miliar atau sekitar 43,75 persen dari total impor nonmigas. Posisi berikutnya ditempati Australia sebesar US$1,07 miliar dan Jepang sebesar US$946 juta.

Berdasarkan kelompok penggunaan barang, impor bahan baku atau penolong meningkat US$1,90 miliar atau 14,67 persen dibandingkan Januari 2025. Impor barang modal juga naik US$1,17 miliar atau 35,23 persen, sementara impor barang konsumsi meningkat US$194,2 juta atau 11,81 persen.

Meski impor mengalami kenaikan cukup tajam, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 masih mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas yang mencatat kelebihan perdagangan US$3,22 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$2,27 miliar.




Reporter : Anata Lu’luul Jannah
Redaktur : Ahmad Zubaidi