RADARBANGSA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya mengalami lonjakan signifikan pada Januari 2026. Komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati meningkat sebesar US$0,99 miliar atau melonjak 46,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan keterangan resmi BPS, total nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$22,16 miliar atau naik 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Sementara itu, ekspor nonmigas tercatat sebesar US$21,26 miliar atau meningkat 4,38 persen secara tahunan.
Dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar, lemak dan minyak hewani atau nabati mencatat peningkatan paling signifikan. Sebaliknya, komoditas bahan bakar mineral menjadi yang mengalami penurunan tertinggi dengan nilai turun US$0,33 miliar atau 11,85 persen dibandingkan Januari 2025.
Secara sektoral, BPS mencatat ekspor nonmigas dari industri pengolahan pada Januari 2026 meningkat 8,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh naiknya ekspor minyak kelapa sawit.
Sebaliknya, ekspor dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan sebesar 20,36 persen akibat turunnya ekspor komoditas kopi. Penurunan juga terjadi pada sektor pertambangan dan lainnya yang turun 14,59 persen, terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor batu bara.
BPS juga mencatat tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok dengan nilai mencapai US$5,27 miliar. Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat sebesar US$2,51 miliar dan India sebesar US$1,52 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 43,77 persen dari total ekspor nonmigas.
Dari sisi wilayah asal barang, ekspor terbesar pada Januari 2026 berasal dari Provinsi Jawa Barat dengan nilai US$3,14 miliar atau sekitar 14,16 persen dari total ekspor nasional. Selanjutnya disusul Sulawesi Tengah sebesar US$2,09 miliar dan Kepulauan Riau sebesar US$1,97 miliar.