RADARBANGSA.COM - Pemerintah memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga di tengah potensi musim kemarau 2026, didukung kondisi cadangan beras yang kuat serta langkah mitigasi terkoordinasi lintas sektor.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kesiapan pemerintah menghadapi dinamika iklim berada dalam kondisi terkendali, seiring dengan penguatan stok nasional. Ia menegaskan, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini telah mencapai 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
"Kalau dampak ini, ada El Nino, itu nggak masalah. Kenapa nggak masalah? Karena stok kita sudah 5 juta ton, tertinggi selama Republik ini merdeka," kata Mentan Amran dikutip dari laman resmi, Sabtu (25/4/2026).
Penguatan ketahanan pangan tersebut ditopang sinergi lintas sektor yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen Sumber Daya Air (SDA), serta Kementerian Pertanian melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) dan Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP).
Dalam menjaga produktivitas, Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk mendukung program irigasi dan penyediaan benih unggul sebagai langkah strategis menghadapi musim kemarau.
Dari total anggaran tersebut, lebih dari Rp3 triliun difokuskan untuk penguatan infrastruktur irigasi, termasuk pompanisasi dan optimalisasi sumber air, khususnya di wilayah rawan kekeringan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan bahwa secara umum kondisi iklim Indonesia masih sangat mendukung sektor pertanian, meskipun potensi kekeringan tetap harus diantisipasi. Fenomena kekeringan akibat El Nino disebut bukan kejadian tahunan, melainkan siklus yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019.
"Kondisi iklim Indonesia sebenarnya sangat baik untuk pertanian. Kekeringan tidak terjadi setiap saat dan kita sudah cukup familiar dalam menghadapinya," ujarnya.
Ia menjelaskan, dinamika iklim nasional dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni fenomena El Nino dan La Nina di Samudra Pasifik, serta pengaruh Samudra Hindia yang berdampak pada wilayah barat Indonesia. Untuk tahun 2026, potensi El Nino diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat, dengan probabilitas sekitar 50–60 persen.
"Kecenderungannya, semakin kuat El Nino maka Indonesia akan semakin kering. Namun kondisi ini tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah," katanya.
BMKG juga memproyeksikan musim kemarau akan datang lebih awal dari biasanya, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Juni hingga September. Sejumlah wilayah bahkan telah mulai memasuki fase kering.