DIY Catat Surplus Dagang 99,96 Juta Dolar AS pada Triwulan I 2026

Jum'at, 15 Mei 2026 18:31 WIB
Ilustrasi Ekspor Impor. (Foto: waresix)
Ilustrasi Ekspor Impor. (Foto: waresix)

RADARBANGSA.COM - Kinerja perdagangan luar negeri Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan I 2026 masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global. Meski nilai ekspor dan impor mengalami penurunan secara tahunan, surplus neraca perdagangan DIY justru meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, surplus perdagangan sepanjang Januari hingga Maret 2026 tercatat mencapai 99,96 juta dolar AS atau naik 10,79 juta dolar AS dibanding triwulan I 2025.

Pelaksana Tugas Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan nilai ekspor DIY pada Maret 2026 sebesar 39,56 juta dolar AS. Angka tersebut turun 14,61 persen dibandingkan Maret 2025 akibat melemahnya sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi penopang utama ekspor daerah.

Meski demikian, secara kumulatif ekspor DIY selama Januari–Maret 2026 masih tumbuh tipis sebesar 0,60 persen dengan nilai mencapai 137,97 juta dolar AS dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Komoditas utama ekspor DIY masih didominasi produk tekstil dan turunannya, terutama pakaian dan aksesoris bukan rajutan dengan kontribusi sebesar 34,67 persen terhadap total ekspor,” ujar Endang, Jumat (15/5/2026).

Selain pakaian nonrajutan, komoditas unggulan lain yang menopang ekspor DIY meliputi pakaian rajutan serta barang berbahan kulit samak. Hampir seluruh aktivitas ekspor DIY juga masih berasal dari sektor industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 99,04 persen.

Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar DIY pada triwulan I 2026 dengan nilai mencapai 64,64 juta dolar AS. Selain itu, Jerman dan Australia juga menjadi pasar utama yang secara keseluruhan menyumbang 62,37 persen dari total ekspor DIY.

Di sisi lain, impor DIY pada Maret 2026 tercatat sebesar 9,29 juta dolar AS atau turun 36,34 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi berkurangnya pembelian bahan baku dan bahan penolong industri.

Secara kumulatif, nilai impor DIY selama Januari–Maret 2026 mencapai 38,01 juta dolar AS atau turun 20,77 persen dibanding triwulan I 2025.

Menurut Endang, struktur impor DIY masih didominasi bahan baku dan bahan penolong dengan kontribusi sekitar 89,10 persen. Hal itu menunjukkan industri di DIY masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.

“Negara asal impor utama DIY meliputi Tiongkok, Hong Kong, dan Amerika Serikat yang secara bersama-sama menyumbang hampir 70 persen dari total impor,” katanya.

Komoditas impor DIY didominasi kain rajutan dan berbagai bahan tekstil lainnya untuk kebutuhan industri pengolahan lokal.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, mengatakan fluktuasi ekspor bulanan belum dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan karena perlu melihat tren dalam beberapa periode ke depan.

Menurutnya, kondisi ekonomi global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi ekspor nasional maupun daerah, termasuk DIY. Pelemahan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang membuat sebagian importir menahan permintaan barang.

“Importir di sejumlah kawasan seperti ASEAN, Eropa, Jepang, Inggris, dan Korea Selatan masih menahan permintaan barang, meskipun beberapa produk masih relatif aman hingga pertengahan tahun,” ujar Yuna.

Selain faktor permintaan global, kenaikan harga bahan baku, bahan penolong produksi, serta ongkos logistik internasional juga turut menekan daya saing ekspor.

Meski demikian, pasar Amerika Serikat, Australia, dan Spanyol masih mampu menopang kinerja ekspor DIY pada awal tahun 2026.

Pemda DIY pun terus mendorong perluasan pasar ekspor melalui business matching, pelatihan ekspor, hingga penyediaan informasi akses pasar internasional.

“Pasar Amerika dan Eropa akan terus kami tingkatkan karena produk DIY didominasi industri kreatif dengan nilai seni tinggi yang memiliki potensi besar di pasar internasional,” pungkas Yuna.



Reporter : Nabiel Ba Ramadani
Redaktur : Rahmad Novandri