RADARBANGSA.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai ekspor provinsi tersebut selama periode Januari–Juni 2026 mencapai US$13,43 miliar. Capaian tersebut mengalami penurunan 4,54 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, Senin (3/8/2026), mengatakan penurunan juga terjadi pada ekspor nonmigas. Sepanjang semester I 2026, nilai ekspor nonmigas tercatat sebesar US$13,26 miliar atau turun 3,70 persen dibandingkan Januari–Juni 2025.
Secara bulanan, nilai ekspor Jawa Timur pada Juni 2026 mencapai US$2,52 miliar, turun 10,95 persen dibandingkan Juni tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor nonmigas pada bulan yang sama tercatat sebesar US$2,51 miliar atau menurun 9,33 persen secara tahunan.
Herum menjelaskan, dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar, komoditas tembaga (HS 74) mencatat pertumbuhan tertinggi. Nilai ekspornya meningkat sebesar US$360,21 juta atau 29,27 persen dibandingkan semester I 2025.
"Komoditas tembaga mencatat kenaikan terbesar di antara sepuluh komoditas utama ekspor nonmigas Jawa Timur," ujar Herum.
Sebaliknya, komoditas perhiasan atau permata (HS 71) menjadi penyumbang penurunan terbesar dengan nilai ekspor yang merosot US$1,35 miliar atau 46,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Herum, melemahnya kinerja komoditas perhiasan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan ekspor Jawa Timur pada semester pertama 2026.
Berdasarkan sektor usaha, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nonmigas Jawa Timur dengan nilai mencapai US$12,69 miliar. Namun, angka tersebut tetap mengalami kontraksi sebesar 2,70 persen dibandingkan semester I 2025.
Selain itu, ekspor nonmigas dari sektor pertanian tercatat turun 21,46 persen, sedangkan sektor pertambangan dan sektor lainnya mengalami penurunan lebih dalam, yakni 25,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Herum menilai perkembangan ekspor pada semester I 2026 masih dipengaruhi oleh dinamika permintaan pasar global serta perubahan kinerja sejumlah komoditas unggulan ekspor. Meski demikian, sektor industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung ekspor Jawa Timur. BPS berharap pertumbuhan komoditas yang masih menunjukkan tren positif, seperti tembaga, dapat mendorong perbaikan kinerja ekspor pada semester kedua 2026.
Dari sisi tujuan ekspor, kawasan ASEAN mencatat pertumbuhan positif. Nilai ekspor nonmigas Jawa Timur ke kawasan tersebut mencapai US$2,98 miliar selama Januari–Juni 2026 atau meningkat 12,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
ASEAN menjadi salah satu pasar utama ekspor nonmigas Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 22,49 persen terhadap total ekspor nonmigas.
Sementara itu, ekspor ke kawasan Uni Eropa juga menunjukkan peningkatan sebesar 8,39 persen menjadi US$892,51 juta atau berkontribusi 6,73 persen terhadap total ekspor nonmigas Jawa Timur.