RADARBANGSA.COM - Setiap Ramadan, warga Banyuwangi selalu menanti kemunculan satu kudapan tradisional yang jarang ditemui di luar bulan puasa: Roti Kopyor. Takjil ini menjadi bagian dari tradisi berbuka karena cita rasanya yang khas dan proses pembuatannya yang tetap mempertahankan cara-cara lama.
Roti Kopyor dibuat dari potongan roti tawar yang dipadukan dengan bihun atau mie soun serta irisan nangka. Seluruh isian itu kemudian disiram kuah santan manis hangat, dibungkus daun pisang, lalu dikukus hingga matang. Perpaduan manis dan gurih santan menyatu dengan lembutnya roti dan aroma nangka, menghadirkan sensasi rasa yang ringan namun mengenyangkan.
Salah satu perajin yang masih memproduksi Roti Kopyor setiap Ramadan adalah Heny Mulyowati (61), warga Kelurahan Singonegaran, Banyuwangi. Ia menekuni usaha ini sejak awal 2000-an, meneruskan keterampilan dari orang tuanya.
“Perkiraan sejak tahun 2000-an sudah mulai membuat ini. Dulu belajar dari orang tua yang juga pembuat Kopyor Roti. Sampai sekarang setiap Ramadan saya tetap produksi,” ujar Heny, Kamis (26/2/2026).
Menurut Heny, ciri khas Roti Kopyor buatannya terletak pada kuah santan yang lebih melimpah dibandingkan biasanya. Ia menilai santan yang banyak membuat teksturnya lebih lembut dan rasa semakin kaya.
“Satu bungkus saya jual Rp5 ribu. Kalau diambil lagi untuk dijual kembali, biasanya jadi sekitar Rp6 ribu,” ungkap ibu empat anak tersebut.
Perajin lainnya, Inayatun Robaniah (47), juga merasakan lonjakan permintaan selama Ramadan. Ia mengaku mampu memproduksi ratusan bungkus setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pedagang yang menjual kembali secara keliling.
"Kue-kue yang matang ini lalu diambil pedagang lain untuk dijajakan keliling. Ada sekitar 10 orang yang menjajakan. Lebih cepat habisnya kalau dijajakan keliling daripada nitip dijual ke orang. Biasanya diambil pukul 14.00, sebelum jam lima sore sudah habis," tuturnya.
Ina menyebut penjualan Roti Kopyor selama Ramadan bahkan melebihi penghasilannya saat berjualan gorengan di hari biasa.
"Hasilnya lebih banyak jual kopyor dibanding gorengan. Mungkin warga Banyuwangi memang menanti kopyor yang ada saat Ramadan saja, makanya permintaan tinggi. Lumayan untuk nambah modal usaha dagangan kue saya tiap tahunnya," kata Ina.
Dengan harga yang relatif terjangkau, mulai Rp2.000 hingga Rp5.000 per bungkus, Roti Kopyor tak hanya menjadi pilihan berbuka yang ramah di kantong, tetapi juga simbol tradisi kuliner Ramadan di Banyuwangi yang terus bertahan dari generasi ke generasi.