DPR Dorong Pemerintah Optimalkan Anggaran Kesehatan Atasi Dampak COVID-19

| Kamis, 02/07/2020 18:41 WIB
DPR Dorong Pemerintah Optimalkan Anggaran Kesehatan Atasi Dampak COVID-19 Intan Fitriana Fauzi (Anggota Komisi IX DPR RI). (Foto: twitter @dpr_ri)

JAKARTA, RADARBANGSA.COM - Anggota Komisi IX DPR RI Intan Fitriana Fauzi mengatakan bahwa anggaran penanganan Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) terus mengalami kenaikan. Di mana awalnya pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 405,1 triliun, kemudian naik signifikan menjadi Rp 677,2 triliun, lalu naik lagi menjadi Rp 695,2 triliun dan melonjak hingga Rp 905,1 triliun.

Dalam siaran persnya, Kamis, 2 Juli 2020, Intan meminta pemerintah untuk optimal dan terukur dalam membelanjakan anggaran di masa status darurat ini, apalagi jika sudah bersentuhan dengan kepentingan rakyat banyak. Tak ada lagi alasan dari pemerintah untuk tidak mengoptimalkan anggaran tersebut, mengingat payung hukum yang menjadi amunisi bagi pengambil kebijakan sudah tersedia. Ia menyayangkan adanya persoalan klasik yang hampir terjadi setiap tahunnya, yaitu rendahnya serapan anggaran kementerian dan lembaga.

“Persoalan ini jelas berdampak langsung bagi masyarakat karena program pemerintah untuk masyarakat menjadi tersendat. Apalagi, program ini bersentuhan dengan kebutuhan yang mendesak bagi publik," kata Intan.

Seyogyanya, lanjut Legislator Fraksi PAN itu, persoalan akut dan menahun ini tidak perlu terjadi lagi. Sebab, anggaran disusun berdasarkan program berbasis kinerja yang juga merupakan hasil pembahasan panjang dengan mitra kerja pemerintah di DPR. Jadi, alokasi anggaran di APBN itu merupakan buah dari sebuah proses politik di Parlemen.

"Menjadikan Covid-19 sebagai kambing hitam penyebab rendahnya daya serapan anggaran, adalah mengada-ada dan ironis. Realisasi anggaran kementerian dan lembaga sampai Mei 2020 hanya 10,41 persen. Khusus anggaran kesehatan sebesar Rp 85,77 triliun yang ditujukan untuk belanja penanganan Covid-19 mendapat sorotan, karena realisasi angggaran stimulus kesehatan tersebut baru mencapai 4,68 persen dari total alokasi anggaran," ungkapnya.

Menurut Intan, tindakan berskala dan berimplikasi besar memang sepatutnya diambil oleh pemerintah. Mengingat, dampak kesehatan, sosial dan ekonomi yang tengah dihadapi ini sangat dahsyat, karena itu, perlu kebijakan luar biasa atau extra ordinary.

"Jika daya serap anggaran ini masih belum optimal maka sama saja dengan memelihara kesenjangan ekonomi dan sosial. Kenapa? Sebab, hal ini dipersepsikan pemerintah kurang serius dalam mengimplementasi program. Pemerintah harus memperbaiki dan memaksimalkan penyerapan anggaran ini. Jika tidak, dapat berpengaruh pada kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah," ujarnya.

Intan menegaskan, perlindungan terhadap kesehatan masyarakat menjadi syarat penting untuk memajukan perekonomian negara. Roda kegiatan ekonomi tidak akan berjalan tanpa didukung dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat. Demikian juga sebaliknya, masyarakat sehat kalau roda ekonomi stagnan, juga tidak memberi insentif bagi negara ini.

"Publik memiliki sensitivitas tinggi terhadap anggaran. Ketidakmampuan pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan anggaran maka yang disoroti publik adalah buruknya kinerja pemerintah. Dan ini sangat memprihatinkan," pungkasnya.

Tags : DPR RI , Anggaran Kesehatan , COVID-19 , APBN