DIY Percepat Eliminasi TB, Skrining Massal Libatkan Ribuan Pelaku Wisata

Senin, 01 Desember 2025 11:01 WIB
Pelaksanaan Active Case Finding (ACF) TB berbasis laboratorium menyasar ribuan pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta. (Foto: ig @dinas_kesehatan_diy)
Pelaksanaan Active Case Finding (ACF) TB berbasis laboratorium menyasar ribuan pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta. (Foto: ig @dinas_kesehatan_diy)

RADARBANGSA.COM - Gerakan penanggulangan tuberculosis (TB) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat.

Hal ini terlihat dari pelaksanaan Active Case Finding (ACF) TB berbasis laboratorium yang selama beberapa hari terakhir menyasar ribuan pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, yang membacakan sambutan Gubernur DIY, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya skrining tersebut.

Ia menyebut kegiatan yang menjangkau sekitar 2.000 pelaku wisata itu merupakan langkah penting dalam mewujudkan Yogyakarta sebagai ruang hidup budaya, wisata, dan ekonomi yang sehat.

“Atas nama Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, saya menyampaikan apresiasi yang tulus atas terlaksananya rangkaian skrining TBC aktif berbasis laboratorium yang hari ini kita tutup bersama. Kegiatan yang menjangkau sekitar 2.000 pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton ini bukan hanya sebuah program kesehatan, tetapi sebuah bentuk nyata dalam merawat ruang hidup Yogyakarta sebagai kawasan budaya, wisata, dan ekonomi yang sehat serta berkeadaban,” ujar Sekda DIY di Gedhong Pracimasana, Sabtu (29/11).

Ni Made juga menyoroti capaian penanggulangan TB di DIY yang dinilai masih perlu dipercepat.

“Penemuan kasus baru mencapai 63% dari target nasional 90%. Angka keberhasilan pengobatan berada pada 83,4%, dan cakupan Terapi Pencegahan TB baru 42,2%,” jelasnya.

Untuk itu, ACF TB disebut sebagai intervensi strategis yang tidak hanya menyediakan deteksi dini, layanan Open PCR, serta investigasi kontak, tetapi juga menghadirkan pendekatan langsung di kawasan wisata yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Cara ini dinilai mampu memperluas jangkauan layanan kesehatan hingga ke ruang publik.

Sekda DIY menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil sinergi banyak pihak.

“Dengan kolaborasi Balai Besar Labkesmas, Dinas Kesehatan, Keraton Yogyakarta, puskesmas, rumah sakit, komunitas, dan asosiasi pelaku wisata DIY menunjukkan bahwa penanganan TB bukan semata urusan medis, melainkan gerakan sosial yang melibatkan semua pihak,” ungkapnya.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, turut memberikan apresiasi terhadap langkah DIY dalam penyelenggaraan ACF TB berbasis laboratorium yang dinilai memiliki kekuatan kolaborasi lintas sektor.

Menurutnya, model kerja sama di Yogyakarta dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

“Kami melihat apa yang bisa dibuat oleh Jogja sebelumnya kami di provinsi yang lain. Nah ternyata di Jogja punya kelebihan terjadi kolaborasi lintas sektor. Tadi ada dari dinas kesehatan, dinas pariwisata, juga dengan teman-teman dari TNI, ada teman-teman dari berbagai masyarakat peran serta masyarakat,” kata Benjamin.

Ia juga menyoroti peran Keraton Yogyakarta yang membuka akses skrining bagi abdi dalem.

“Keraton membuka tempatnya untuk memeriksa semua abdi dalem, tadi ada 500 orang lebih. Inilah yang ingin kita contoh, apa yang baik di Jogja bisa diimplementasikan di wilayah lain,” ujarnya.

Benjamin menegaskan bahwa percepatan eliminasi TB membutuhkan dukungan lintas kementerian dan lembaga.

“Sebelumnya pemberantasan tuberculosis melibatkan 15 kementerian. Sekarang kami siapkan revisi kepres menjadi melibatkan 31 kementerian dan lembaga,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa penanganan TB tidak dapat ditangani oleh sektor medis saja.

“Pemberantasan TB bukan murni kerjaan dokter saja. Tapi bagaimana sanitasi lingkungan diperbaiki, rumah dibantu dengan ventilasi yang baik, lantai keramik, air bersih, hingga fasilitas jamban yang layak,” pungkasnya.



Reporter : Nabiel Ba Ramadani
Redaktur : Rahmad Novandri