Wajah Baru Penglipuran: Desa Terbersih di Dunia dengan Relief Sejarah yang Menghidupkan Leluhur

Senin, 02 Februari 2026 11:02 WIB
Potret Desa Adat Penglipuran. (Foto: kemenparekraf)
Potret Desa Adat Penglipuran. (Foto: kemenparekraf)

RADARBANGSA.COM - Di tengah laju pariwisata modern Bali, Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli tetap berdiri sebagai ruang yang menjaga waktu. Desa adat di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut ini dikenal luas sebagai salah satu desa terbersih di Indonesia bahkan dunia.

Predikat itu lahir dari disiplin kolektif warga: jalan utama bebas kendaraan, halaman rumah tertata rapi, dan sistem pengelolaan sampah dijalankan dengan kesadaran bersama. Bagi masyarakat Penglipuran, kebersihan bukan strategi wisata, melainkan nilai hidup yang diwariskan.

Ritual keagamaan tetap dijalankan. Setiap 15 hari warga berkumpul di Pura Penataran untuk bersembahyang. Konsistensi menjaga tradisi inilah yang membawa Penglipuran masuk daftar Best Tourism Villages 2023, pengakuan atas keberhasilan desa mempertahankan identitas di tengah arus global.

Kini desa wisata itu menambah cara baru bercerita. Di kawasan hutan bambu, pengelola membangun relief sejarah desa sebagai media storytelling bagi wisatawan. Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa mengatakan proyek dimulai awal Januari 2026 dan dikerjakan oleh seniman lokal di tembok sepanjang sekitar 30 meter.

"Nanti wisatawan bisa mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam tentang Desa Penglipuran. Karena semuanya akan digambarkan dalam relief itu," ujarnya, dikutip Senin (2/2/2026).

Menurutnya, relief dirancang agar pemandu wisata dapat menyampaikan sejarah desa secara runtut sekaligus membangun pengalaman yang bernilai makna.

"Saat ini pengerjaan masih berproses. Ya, dengan adanya relief ini, bisa memberikan pengalaman berkesan bagi semua wisatawan. Karena akan menampilkan sejarah desa," urai Sumiarsa.

Pengerjaan ditargetkan rampung Juni 2026 melalui kolaborasi Desa Adat dan Pelindo lewat dana CSR.

"Mudah-mudahan rampung Juni mendatang. Baru setelah itu akan ditampilkan untuk umum. Ini akan menjadi salah satu upaya dalam memberikan kesan kepada wisatawan ke depannya," pungkasnya.

Di Penglipuran, wisata hadir sebagai tamu. Yang utama tetap tradisi. Desa ini bukan hanya menawarkan pemandangan rapi, tetapi narasi hidup tentang bagaimana budaya dan pariwisata dapat berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.



Reporter : Arif Setiawan
Redaktur : Rahmad Novandri