Dua Minggu Terendam Banjir, Warga Lombok Timur: Jangan Tunggu Kami Tenggelam Baru Bergerak

Rabu, 04 Februari 2026 17:03 WIB
Banjir di Lombok Timur. (Foto: lombokita)
Banjir di Lombok Timur. (Foto: lombokita)

RADARBANGSA.COM - Puluhan rumah di Dusun Seteluk dan Kaliantan, Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, sudah lebih dari dua minggu terendam banjir akibat luapan Embung Bedah. Hujan berkepanjangan membuat genangan tak kunjung surut, merendam permukiman, lahan pertanian, hingga rumah ibadah, sementara warga terus bertahan di tengah kondisi yang kian memburuk.

Warga menilai pemerintah lamban merespons banjir yang berlarut-larut. Kekesalan itu disampaikan langsung oleh Samsul Hadi (37) yang merasa dibiarkan hidup dalam kepungan air.

“Kami harapkan kepada pemerintah untuk secepatnya membuat saluran pembuangan bendungan ini. Jangan sampai menunggu kami semua tenggelam baru mereka bergerak,” tegas Samsul dikutip Rabu (4/2/2026).

Di tengah genangan yang terus meluas, sebagian warga terpaksa meninggalkan rumah setelah air masuk hingga ke dalam bangunan. Ilang (58) mengatakan keluarganya kini mengungsi demi keselamatan.

“Kalau di rumah saya sudah masuk airnya, makanya saat ini kami mengungsi,” ujarnya.

Menurut Ilang, banjir yang awalnya hanya terjadi di titik tertentu kini menjalar ke rumah warga lain.

“Sudah dua minggu lebih rumah kami terendam, tapi kalau lahan pertanian sudah satu bulan terendam banjir,” terangnya.

Selain merusak rumah dan sawah, warga mulai dihantui persoalan kesehatan. Lingkungan permukiman semakin kumuh akibat kiriman sampah dan kotoran hewan yang terbawa arus. Ilang menyebut kondisi itu berisiko memicu penyakit kulit, terutama pada anak-anak. Aktivitas ekonomi masyarakat pun nyaris lumpuh karena akses dan pekerjaan terganggu.

Banjir juga berdampak pada pendidikan. Anak-anak di desa tersebut sudah lama tidak masuk sekolah karena jalan dan bangunan sekolah masih tergenang.

“Anak-anak di sini sudah lama tidak masuk sekolah karena jalan yang dilalui saat ini tergenang air. Di sekolah mereka juga saat ini masih kebanjiran,” pungkas Samsul.

Menurut warga, tingginya intensitas hujan membuat Embung Bedah cepat penuh dan meluap. Mereka menilai ketiadaan saluran pembuangan yang layak menjadi penyebab utama banjir berkepanjangan.

Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Muliadi, mengatakan pihaknya telah berupaya menyedot air embung. Namun kapasitas pompa yang terbatas membuat penyedotan belum maksimal, terlebih hujan masih terus turun.

BPBD menyiagakan tim dan mendirikan tenda pengungsian untuk melayani sekitar 80–100 kepala keluarga di Desa Seriwe. Dampak luapan embung juga dirasakan warga Desa Ekas Buana dan Kwang Runding di kecamatan yang sama. Di Ekas Buana sekitar 70 kepala keluarga terdampak, sementara di Kwang Runding sekitar 20 kepala keluarga.

“Kita juga sudah salurkan bantuan dari Baznas untuk warga semoga bisa membantu,” pungkas Muliadi.



Reporter : Arif Setiawan
Redaktur : Rahmad Novandri