Jelang Ramadan, Abdi Dalem Keraton Gelar Tradisi Kuthomoro di Imogiri

Kamis, 05 Februari 2026 16:32 WIB
Abdi Dalem Keraton gelar Tradisi Kuthomoro di Imogiri menjelang bulan ramadan. (Foto: Pemkab Bantul)
Abdi Dalem Keraton gelar Tradisi Kuthomoro di Imogiri menjelang bulan ramadan. (Foto: Pemkab Bantul)

RADARBANGSA.COM - Sejumlah abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan Hajad Dalem Kuthomoro, sebuah tradisi nyadran atau ziarah makam yang digelar menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Dalam prosesi tersebut, para abdi dalem berjalan tanpa alas kaki sebagai wujud laku spiritual dan penghormatan kepada para leluhur Keraton Yogyakarta yang dimakamkan di Kompleks Makam Imogiri.

Prosesi berlangsung khidmat dengan rute berjalan kaki dari Kantor Bupati Juru Kunci Puroloyo yang berada di Paseban Kalurahan Imogiri menuju Bangsal Srimanganti, bangunan yang terletak di depan Kompleks Makam Sultan Agung.

Setibanya di Bangsal Srimanganti setelah menaiki ratusan anak tangga, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil serta tabur bunga di makam Sultan Agung Hanyakrokusumo dan para leluhur Keraton Yogyakarta.

Penghageng Makam Raja-raja Imogiri, KRT Hastono Ningrat, menyampaikan bahwa tradisi Hajad Dalem Kuthomoro merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun pada pertengahan bulan Syaban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa.

“Tradisi ini selalu dilaksanakan pada pertengahan bulan sebelum Ramadan setiap tahunnya dan tidak pernah berubah,” ujarnya usai prosesi Kuthomoro, dikutip Kamis (5/2/2026).

Hal senada disampaikan Panewu Imogiri, Slamet Santoso. Ia menjelaskan, berbagai uborampe yang dibawa dalam tradisi tersebut, seperti lisah konyoh (minyak wangi), ratus (serbuk kayu cendana), serta yatra tindih (uang untuk membeli bunga), telah diterima dan diinapkan semalam di Kantor Bupati Puroloyo.

“Rangkaian acara sudah dimulai sejak kemarin dengan serah terima uborampe Kuthomoro di pendopo Bupati Puroloyo Ngayogyakarta. Setelah diinapkan semalam, pagi tadi dikirab menuju lokasi ini untuk pelaksanaan tahlil dan nyekar,” jelasnya.

Aneka uborampe yang menghadirkan aroma harum tersebut dimaknai sebagai simbol penghormatan serta upaya memuliakan dan menjaga nama baik para leluhur Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah wafat.



Reporter : Nabiel Ba Ramadani
Redaktur : Rahmad Novandri