RADARBANGSA.COM - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan perkembangan aktivitas Gunung Merapi pada Senin (16/2/2026) periode pukul 00.00–06.00 WIB.
Pengamat Gunung Merapi, Suraji, menyampaikan bahwa secara visual gunung terlihat jelas tanpa adanya asap dari kawah. Namun, aktivitas guguran lava masih terpantau.
“Teramati 16 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimal 1.700 meter,” ujarnya.
Dari sisi cuaca, kondisi di sekitar Merapi terpantau mendung dengan angin tenang ke arah timur. Suhu udara tercatat sekitar 20,4 derajat Celsius, kelembaban 99 persen, dan tekanan udara 913,4 mmHg.
Sementara itu, aktivitas kegempaan didominasi oleh 45 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–28 mm dan durasi 33,38–172,83 detik. Selain itu, tercatat 6 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 3–24 mm.
PVMBG juga mengingatkan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Adapun di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Suraji menambahkan, suplai magma masih berlangsung sehingga berpotensi memicu awan panas guguran di wilayah rawan bencana.
Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas di zona bahaya serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar dan awan panas, khususnya saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
Selain itu, warga juga diminta mengantisipasi dampak abu vulkanik. PVMBG memastikan akan terus memantau perkembangan aktivitas dan melakukan evaluasi jika terjadi peningkatan signifikan.