Demo di Mapolda DIY Ricuh, Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius

Rabu, 25 Februari 2026 20:31 WIB
Ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi di Mapolda DIY. (Foto: Harian Jogja)
Ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi di Mapolda DIY. (Foto: Harian Jogja)

RADARBANGSA.COM - Aksi unjuk rasa terkait dugaan kekerasan aparat kembali terjadi di Yogyakarta. Pada Selasa (24/2/2026), demonstrasi di depan Markas Kepolisian Daerah (Polda) DIY berlangsung tegang dan diwarnai sejumlah insiden, mulai dari robohnya gerbang hingga munculnya suara ledakan yang belum diketahui penyebabnya.

Aksi tersebut diikuti elemen masyarakat dan mahasiswa yang menyuarakan protes atas meninggalnya seorang remaja berusia 14 tahun di Maluku yang diduga menjadi korban kekerasan oknum aparat.

Unjuk rasa diawali dengan titik kumpul di Kampus UPN Veteran Yogyakarta sekitar pukul 16.30 WIB. Massa yang terdiri dari warga sipil dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi seperti UGM, UNY, dan UPN Veteran kemudian bergerak menuju Mapolda DIY melalui long march.

Sesampainya di lokasi, massa mendekati gerbang timur dan membongkar water barrier yang sebelumnya dipasang aparat. Situasi memanas ketika massa yang terus berdatangan melakukan aksi dorong dengan barikade pengamanan.

Sekitar pukul 18.43 WIB, gerbang sisi timur Polda DIY roboh akibat desakan massa. Setelah itu, sejumlah peserta aksi terlihat mencoret dinding luar markas kepolisian dengan berbagai tulisan protes.

Aksi tersebut berdampak pada arus lalu lintas di jalur Ring Road Utara. Kemacetan terjadi di sekitar simpang Condongcatur dan kawasan UPN karena sebagian massa meluas hingga ke badan jalan.

Kondisi semakin mencekam sekitar pukul 19.55 WIB saat terdengar suara ledakan keras dari arah kerumunan. Insiden itu memicu kepanikan dan membuat massa berlarian meninggalkan area depan gerbang yang telah roboh. Hingga kini, penyebab ledakan masih belum diketahui secara pasti.

Aparat kemudian mengalihkan arus lalu lintas di depan Mapolda DIY guna mengantisipasi situasi yang tidak kondusif.

Meski tidak membawa tuntutan tertulis atau panggung orasi resmi, substansi tuntutan massa dinilai jelas, yakni penolakan terhadap kekerasan aparat serta kritik terhadap sistem yang dianggap bermasalah.

Salah satu peserta aksi, UD, menyatakan bahwa demonstrasi ini merupakan bentuk kemarahan masyarakat atas peristiwa di Maluku.

“Aksi ini adalah bentuk kemarahan masyarakat Yogyakarta terhadap tragedi di Maluku. Ada anak 14 tahun yang tidak bersalah, sedang mengendarai motor, tiba-tiba kepalanya dihantam helm hingga tewas,” ujarnya.

Ia menambahkan, massa tidak lagi memandang kekerasan aparat sebagai tindakan individu semata, melainkan sebagai persoalan yang bersifat institusional.

“Masyarakat Yogyakarta menyadari bahwa persoalan ini bukan sekadar perilaku oknum, melainkan masalah institusional. Aksi hari ini adalah wadah bagi kami untuk meluapkan kekecewaan mendalam tersebut,” tegasnya.

UD juga menilai, aksi serupa yang pernah digelar sebelumnya belum membawa perubahan signifikan.

“Sejak aksi pada Agustus 2025 lalu, kami tidak melihat adanya perubahan perilaku aparat yang berarti,” tambahnya.



Reporter : Nabiel Ba Ramadani
Redaktur : Rahmad Novandri