RADARBANGSA.COM - Hujan lebat yang mengguyur Bali sejak Sabtu memicu rangkaian bencana hidrometeorologi di berbagai daerah. Hingga Selasa (24/2/2026) pukul 18.00 Wita, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali mencatat 90 titik terdampak cuaca ekstrem.
Gubernur Bali, I Wayan Koster, menilai hujan tanpa henti selama tiga hari terakhir menjadi penyebab utama banjir di sejumlah kawasan.
“Karena dari Sabtu yang lalu hujannya tak henti. Dari pagi sampai malam, dari malam sampai pagi,” kata Koster di Denpasar.
Sebanyak 51 titik di antaranya merupakan banjir. Selain itu, tercatat lima tanah longsor, satu tanggul jebol, satu kejadian puting beliung, 27 pohon tumbang, dan empat senderan jebol.
Denpasar menjadi wilayah paling terdampak dengan 46 titik kejadian, termasuk 39 titik banjir. Kabupaten Badung menyusul dengan 12 titik banjir, sementara pohon tumbang tersebar di Karangasem, Gianyar, Buleleng, Tabanan, Klungkung, dan Jembrana.
Di tengah bertambahnya titik bencana tersebut, Pemerintah Provinsi Bali tidak berencana membangun posko pengungsi tambahan. Koster menyatakan penanganan diserahkan kepada BPBD dan tim gabungan di lapangan.
Ia juga mengimbau masyarakat membatasi mobilitas di tengah kondisi cuaca ekstrem.
“Kalau nggak perlu sekali hindari bepergian yang jauh, apalagi ada jalur atau daerah rawan banjir,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya mengatakan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa ini. Sekitar 350 warga sempat dievakuasi hingga pukul 15.30 Wita, namun seluruhnya telah kembali ke rumah masing-masing.
“Bangunan terdampak sedang pendataan,” jelas Gede Teja.
Ia juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial terkait luapan Tukad Badung. Video yang disebut-sebut sebagai kondisi terbaru dipastikan merupakan rekaman banjir September 2025. Menurut Teja, kenaikan muka air memang sempat mencapai level siaga.
“Kenaikan muka air sempat mencapai status siaga, tetapi saat ini kondisinya berangsur menurun. Tentunya kami tetap melakukan pemantauan intensif melalui sistem peringatan dini dan personel di lapangan,” ujarnya.
Alarm early warning system (EWS) di Tukad Badung sempat berbunyi pada level 2 Siaga atau sekitar 116 sentimeter di atas permukaan air pada dini hari.
Dampak cuaca ekstrem juga terasa di sektor transportasi dan pariwisata. Di kawasan Kuta dan Legian, sejumlah ruas jalan seperti Dewi Sri dan sekitarnya sempat tergenang hingga setinggi pinggang orang dewasa, memaksa kendaraan memutar arah. Beberapa wisatawan dilaporkan dievakuasi dari hotel dan vila di Sanur akibat genangan.
Sementara itu, operasional di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai ikut terdampak. Hingga Selasa sore, lima penerbangan mengalami gangguan, terdiri atas dua kedatangan yang dialihkan dan tiga keberangkatan yang dijadwalkan ulang. Penyeberangan fast boat rute Nusa Penida–Sanur juga sempat diberlakukan sistem buka tutup karena hujan angin dan kabut tebal.
Meski dampaknya meluas, BPBD menegaskan situasi masih terkendali dan pemantauan terus dilakukan di seluruh wilayah terdampak. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada selama intensitas hujan tinggi masih berpotensi terjadi.