MBG DIY Gunakan AI dan IoT, Distribusi Pangan Lebih Transparan

Sabtu, 28 Februari 2026 22:01 WIB
foto ilustrasi menu makan bergizi gratis. (Foto: tiktok @sppgpanembahankraton)
foto ilustrasi menu makan bergizi gratis. (Foto: tiktok @sppgpanembahankraton)

RADARBANGSA.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di DIY kini diperkuat melalui penerapan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) lewat sistem SIMETRIS.

Inovasi ini dirancang untuk mencegah potensi keracunan pangan sekaligus memastikan ketertelusuran distribusi bahan makanan secara menyeluruh.

SIMETRIS (Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi Ketahanan Pangan Strategis) berfungsi sebagai pusat kendali terpadu yang memantau pasokan bahan pangan MBG dari hulu hingga hilir secara real-time. Sistem ini juga mengintegrasikan produksi Kelompok Wanita Tani (KWT) Lumbung Mataraman dengan dapur MBG dalam satu ekosistem digital.

Lumbung Mataraman sendiri merupakan model ketahanan pangan berbasis komunitas di DIY yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, baik di lahan kas desa maupun pekarangan warga. Program ini didukung Dana Keistimewaan untuk mendorong kemandirian pangan di tingkat desa.

IT Development SIMETRIS, Fajar Saptono, menjelaskan bahwa sebelumnya pencatatan stok pangan masih dilakukan secara manual dan tersebar. Kini, seluruh data mulai dari stok di kalurahan, jenis komoditas, hingga hasil panen warga telah terdigitalisasi dan dapat dipantau secara langsung.

“Ibu-ibu KWT tidak hanya mencangkul, tetapi juga menginput data produksi seperti cabai, sayuran, dan telur ke sistem. Mereka menjadi produsen sekaligus penjaga data pangan daerah,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

Dalam implementasinya, setiap kemasan bahan pangan dilengkapi QR Code atau barcode guna menjamin transparansi distribusi. Setiap hasil panen dari Lumbung Mataraman diberi label sebelum dikirim ke dapur MBG.

Melalui pemindaian, petugas dapat mengetahui asal KWT, lokasi lahan, tanggal panen, hingga masa kedaluwarsa. Sistem ini memastikan ketertelusuran penuh, sehingga jika terjadi kendala, distribusi dapat dilacak dengan cepat.

Alur distribusi dimulai dari input hasil panen oleh KWT sebagai stok siap jual di SIMETRIS. Selanjutnya, pengelola SPPG memilih pemasok terdekat dalam satu wilayah untuk menjaga kesegaran bahan sekaligus memotong rantai distribusi.

“Proses memasak pun tidak luput dari pengawasan. CCTV berbasis AI akan memantau higienitas dapur. Setiap transaksi dan distribusi ke siswa dicatat digital untuk memastikan akuntabilitas anggaran dan pembayaran tunai kepada petani,” jelasnya.

SIMETRIS juga dilengkapi Early Warning System (EWS) untuk mendeteksi potensi risiko secara cepat. Jika terjadi masalah pada satu batch produksi, sistem dapat langsung melacak dan melakukan penarikan secara real-time.

“Setiap unit pelayanan juga wajib menerapkan standar Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Suhu masak daging harus di atas 75 derajat Celsius guna membunuh bakteri seperti Salmonella dan E. coli,” tambahnya.

Sementara itu, RM Wahyono Bimarso dari Yayasan Biijana Paksi Sitengsu menyampaikan bahwa penguatan sistem ini dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).

Di sejumlah wilayah, program ini juga melibatkan komunitas lokal sebagai pemasok bahan pangan, dengan pemerintah bertindak sebagai offtaker.

Hasilnya, petani mendapatkan kepastian pasar dengan harga yang layak, sementara siswa memperoleh asupan gizi yang terjamin kualitasnya.

“Program MBG di DIY kami harapkan pula mampu membangun ekosistem ekonomi desa yang tangguh, sehat, dan transparan dari hulu ke hilir,” ujarnya.



Reporter : Nabiel Ba Ramadani
Redaktur : Rahmad Novandri