Ida Fauziah Ingatkan Calon Rektor UINSA: Jadikan Alumni Partner Strategis

Sabtu, 07 Maret 2026 22:02 WIB
Para Guru Besar berpose bersama usai penyampaian visi-misi pada acara sarasehan IKA-UINSA. (Foto: IG Ida Fauziah)
Para Guru Besar berpose bersama usai penyampaian visi-misi pada acara sarasehan IKA-UINSA. (Foto: IG Ida Fauziah)

RADARBANGSA.COM - Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (IKA UINSA), Dr. Ida Fauziyah, memberikan pesan menohok bagi para kandidat calon pemimpin kampus ke depan.

Ia menegaskan bahwa siapapun rektor yang nantinya terpilih menakhodai kampus Islam negeri terbesar di Surabaya tersebut, wajib bersinergi kuat dengan para alumnus.

“Jangan hanya menjadikan para alumni yang ternaungi dalam wadah IKA UINSA sebagai bagian dari masa lalu saja, tapi jadikan potensi dan partner strategis di masa depan,” tandas Ida Fauziyah disambut riuh tepuk tangan hadirin dikutip Sabtu (7/3/2026).

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam acara Sarasehan IKA UINSA yang digelar di aula Kantor Kementerian Agama Wilayah Jawa Timur, Kamis (5/3) malam.

Acara yang mengusung tema penguatan arah UINSA sebagai pusat keunggulan global ini secara tidak langsung menjelma menjadi panggung unjuk gigi para bakal calon rektor.

Tercatat, sebanyak sembilan guru besar (profesor) secara bergantian memaparkan visi misinya di hadapan sekitar 250 alumni yang memadati ruangan.

Menyikapi nuansa politis yang cukup kental dalam forum tersebut, mantan Menteri Ketenagakerjaan periode 2019-2024 ini meresponsnya dengan santai dan terbuka.

“Kalau kemudian ada yang mengaitkan sarasehan ini dengan agenda suksesi kepemimpinan di UINSA, ya silakan,” paparnya.

Pesan Ida Fauziyah tersebut sejalan dengan arahan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI, Prof. Sahiron, yang hadir mewakili Menteri Agama. Ia menekankan perlunya merangkul alumni untuk berkontribusi positif dalam pengembangan kampus secara komprehensif.

Dari sembilan guru besar yang hadir, hanya Prof. Rubaidi yang secara terang-terangan mendeklarasikan diri bakal maju sebagai calon rektor. Guru Besar Ilmu Tasawuf ini merasa terpanggil usai menyoroti anjloknya produktivitas karya ilmiah UINSA yang terpuruk di urutan ke-6.

Sesi adu gagasan ini juga diwarnai kritik pedas dari tokoh lain. Prof. Muhibbin Zuhri, misalnya, menyentil kondisi perguruan tinggi saat ini yang mulai melenceng dari khittah dan terjebak pada pusaran komersialisasi kapitalisme semata.

Kritik tak kalah tajam datang dari Prof. Nur Syam. Mantan Sekjen Kemenag RI yang memantik diskusi ini menyoroti fenomena "profesor gedebog" (batang pisang) di kampus, yakni para guru besar yang absen berkontribusi usai resmi dikukuhkan.

Sementara itu, mantan Rektor UINSA 2018-2022, Prof. Masdar Hilmy, menekankan pentingnya kolektivitas dan integrasi kurikulum bersama alumni guna menghadapi era transformasi.

Di sisi lain, incumbent Rektor UINSA yang masa jabatannya akan segera berakhir, Prof. Ahmad Muzakki, memaparkan strategi adaptasi, inovasi, dan distingsi sebagai kunci menaikkan kelas kampus, termasuk mewajibkan dosen menguasai kitab kuning.

Menariknya, bursa pencalonan rektor kali ini juga diramaikan oleh empat srikandi guru besar, yakni Prof. Evi Fatimatur Rusydiyah, Prof. Husniyatus Salamah Zainiyati, Prof. Zumroatul Mukaffa, dan Prof. Titik Triwulan Tutik.

Pembina IKA UINSA, Ismail Nachu, menilai peluang keterpilihan tokoh perempuan saat ini sangatlah besar. “Di era Menteri Agama sekarang, banyak guru besar wanita yang menjadi rektor PTKIN. Jadi, peluangnya sangat terbuka lebar,” pungkasnya.



Reporter : Bahauddin
Redaktur : Rahmad Novandri