RADARBANGSA.COM - Hujan ekstrem yang mengguyur tanpa henti selama lebih dari dua jam pada Selasa (24/3/2026) memicu kelumpuhan di wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Luapan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tak mampu menampung debit air seketika menerjang dan merendam permukiman warga di sembilan kecamatan sekaligus.
Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, hujan mulai turun sejak pukul 14.00 WIB. Genangan air pun terpantau masih mengepung wilayah terdampak hingga pukul 22.50 WIB.
Kecamatan Beji menjadi episentrum terparah dari amukan banjir kali ini. Sedikitnya 800 kepala keluarga (KK) harus berhadapan dengan air bah yang merendam rumah mereka.
Kondisi paling kritis terpantau di Dusun Gersikan, Desa Kedungringin, serta Dusun Pasinan, Desa Beji. Khusus di Dusun Pasinan, ketinggian air bahkan menembus angka 1,2 meter dengan arus yang terbilang sangat deras.
Tim BPBD bersama jajaran relawan harus berjuang ekstra keras dan bertaruh nyawa melawan arus saat mengevakuasi warga yang terjebak menggunakan perahu karet.
Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, membenarkan parahnya kondisi kelumpuhan di wilayah tersebut.
“Beberapa titik di Beji merendam ratusan rumah warga. Akses jalan juga terputus akibat tingginya genangan,” ujar Sugeng Hariyadi dalam keterangan resminya dikutip Kamis (26/3/2026).
Kondisi tak kalah memprihatinkan juga melanda Kecamatan Winongan. Di kawasan langganan banjir ini, lebih dari seribu rumah di sembilan desa terendam genangan dengan ketinggian bervariasi antara 30 sentimeter hingga nyaris satu meter.
Sementara itu, luapan air di Kecamatan Bangil menyasar kawasan Kelurahan Kalianyar dan Satak. Ketinggian genangan yang mencapai 60 sentimeter membuat akses transportasi utama di Jalan Raya Kalianyar terganggu parah.
Selain tiga kawasan tersebut, banjir juga memperluas jajahannya hingga ke Kecamatan Rejoso, Gondangwetan, Kraton, Grati, Kejayan, dan Pasrepan.
Meski debit air di Pasrepan dan Kejayan dilaporkan mulai surut, pihak berwenang menegaskan status siaga penuh tetap diberlakukan di seluruh lokasi.
“Situasi saat ini masih dalam pantauan ketat. Kami meminta warga tetap waspada karena cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi,” tegas Sugeng.