Potret Lebaran Topat Lombok: Pesta Ribuan Warga & Tradisi Unik Anak-anak

Senin, 30 Maret 2026 09:02 WIB
Potret masyarakat Lombok saat merayakan Lebaran Topat di Wisata Taman Hiburan Rakyat Loang Baloq, Sabtu (28/3). (Foto: suarantb.com/pan)
Potret masyarakat Lombok saat merayakan Lebaran Topat di Wisata Taman Hiburan Rakyat Loang Baloq, Sabtu (28/3). (Foto: suarantb.com/pan)

RADARBANGSA.COM - Perayaan Lebaran Topat di Pulau Lombok selalu menyajikan daya pikat yang luar biasa. Tahun ini, keragaman tradisi penutup bulan Syawal tersebut tergambar jelas dari dua potret perayaan yang kontras namun sarat makna di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur.

Di ibu kota provinsi, kemeriahan Lebaran Topat pada Sabtu (28/3) terpantau meledak di kawasan Taman Hiburan Rakyat Loang Baloq, Kecamatan Sekarbela.

Lebih dari 3.000 pengunjung dari berbagai penjuru NTB menyemut sejak pukul 08.00 Wita.

Mereka mengawali prosesi dengan berziarah ke Makam Syeikh Gauz Abdurrazak, Datuk Laut, dan Anak Yatim, sebelum akhirnya bersantai menikmati suasana pantai.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Cahya Samudra, memaparkan bahwa euforia Lebaran Topat di Mataram dipecah ke dalam dua titik sentral, yakni Makam Bintaro ("Ma’ripat") dan Makam Loang Baloq ("Berkah Topat Mentaram").

“Konsepnya tetap sama, setiap tahun dilaksanakan di dua titik,” ujar Cahya, dilansir Suara NTB, Senin (30/3/2026).

Selain tradisi ziarah, Pemkot Mataram juga memanjakan warga dengan pertunjukan peresean.

“Untuk di Loang Baloq, acara inti dimulai sejak pagi, kemudian dilanjutkan setelah Dzuhur hingga menjelang matahari terbenam,” jelasnya.

Sadar akan membeludaknya massa, aparat gabungan dari unsur TNI, Polri, Basarnas, dan BPBD disiagakan penuh. Cahya sangat mewanti-wanti potensi bahaya di area perairan.

“Kami mengarahkan Pokdarwis untuk terus mengimbau pengunjung melalui pengeras suara yang tersedia di kawasan wisata, terutama kepada orang tua agar mengawasi anak-anaknya dan tidak berenang di pantai, mengingat pernah terjadi insiden sebelumnya,” ujarnya.

Tak hanya urusan nyawa, kepadatan kendaraan juga menjadi atensi khusus pihak penyelenggara agar insiden salah ambil motor tak kembali terulang.

“Pernah terjadi kasus sepeda motor tertukar saat pengunjung pulang,” pungkasnya.

Jika di Mataram perayaan didominasi oleh riuhnya orang dewasa, pemandangan jauh berbeda justru tersaji di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur.

Digelar setiap tanggal 7 Syawal di Masjid Pusaka, ajang ini justru mendaulat anak-anak sebagai bintang utama.

"Yang hadir di masjid lebih banyak dihadiri oleh anak-anak, sementara para orang tua hanya mendampingi," kata salah seorang tokoh masyarakat Desa Ketangga, Amaq Hasbi, Sabtu (28/3/2026), dilansir detik Bali.

Ratusan bocah tampak antusias membedah _Dulang_ berselubung tudung merah (_Tebolak Beaq_). Di dalamnya tersaji aneka penganan lezat, mulai dari ketupat, opor ayam, hingga jajanan tradisional.

"Sajian makan atau isi Dulang itu dimakan bersama-sama, tujuannya sebenarnya untuk memupuk rasa kebersamaan untuk anak-anak di desa kami," ujar Amaq Hasbi.

Ada satu keunikan yang tak boleh terlewat dalam _Dulang_ tersebut, yakni jumlah telur ayam (telur topat) yang disajikan harus presisi dengan jumlah anak di keluarga bersangkutan.

"Kalau anaknya 5, ya jumlah telurnya juga 5, begitu seterusnya," terang Amaq Hasbi.

Tradisi turun-temurun ini sejatinya membawa misi mulia dari para leluhur untuk merekatkan generasi muda dengan rumah ibadah.

"Maknanya memang begitu yang sudah dituturkan kita oleh orang tua kita dulu, kita kenalkan masjid kepada anak-anak. Dan juga untuk membiasakan anak-anak berbagi kepada sesama," jelas Amaq Hasbi.



Reporter : Bahauddin
Redaktur : Rahmad Novandri