RADARBANGSA.COM - Komisi D DPRD DIY menyoroti belum optimalnya kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dalam memaksimalkan peran museum dan situs sejarah sebagai sarana edukasi publik.
Kondisi ini dinilai menghambat fungsi strategis museum dalam membangun kesadaran sejarah generasi muda.
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu, menegaskan museum seharusnya tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran aktif yang terintegrasi dengan sektor pendidikan dan pariwisata.
“Keprihatinan kami saat ini adalah belum adanya kolaborasi yang masif antara OPD seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, dan Dinas Pariwisata dalam mendukung peran museum. Padahal museum bisa menjadi ruang belajar yang penting bagi generasi muda,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Ia menambahkan, penguatan peran edukatif museum perlu dilakukan secara terpadu karena pemahaman sejarah menjadi fondasi penting dalam membentuk cara pandang generasi muda.
Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menyampaikan bahwa penguatan museum juga sejalan dengan upaya menjadikan Yogyakarta sebagai City of Museum. Menurutnya, dukungan kebijakan, termasuk bagi museum swasta, perlu diperkuat agar pengelolaan berkelanjutan dapat terwujud.
Saat ini, DPRD DIY tengah mendorong penyusunan Raperda tentang museum sebagai payung hukum pengelolaan. Regulasi tersebut diharapkan mampu mengatur aspek koleksi, pendanaan, hingga promosi guna meningkatkan daya tarik wisata berbasis sejarah dan budaya.
“Ke depan, kami berharap Raperda ini dapat menjadi payung bagi seluruh museum, baik milik pemerintah maupun swasta, sehingga mampu meningkatkan daya tarik wisata di DIY, tidak hanya destinasi populer seperti Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan, tetapi juga museum dan potensi budaya lainnya,” jelasnya.
Selain museum, DPRD DIY juga menyoroti pentingnya optimalisasi situs sejarah, salah satunya Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan di Sleman yang memiliki nilai historis tinggi.
Anton menegaskan, situs sejarah harus terus dihidupkan sebagai ruang pembelajaran nilai kebangsaan.
“Monumen bukan sekadar situs sejarah, tetapi ruang pembelajaran nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda agar tidak melupakan jati diri bangsa,” pungkasnya.