RADARBANGSA.COM - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur bersinergi dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya menggelar seminar peningkatan literasi digital bagi masyarakat bertema “Gen Z dan Digital Citizenship Mengawal Demokrasi di Ruang Siber” di Luminor Hotel Jemursari, Senin (18/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, civitas akademika, serta perwakilan berbagai kampus di Surabaya. Seminar ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya etika, literasi digital, dan tanggung jawab bermedia sosial di era perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.
Kepala Diskominfo Provinsi Jawa Timur yang diwakili Ketua Tim Kerja Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan Penyelenggaraan Statistik Sektoral, Drs. Satriyo Wahyudi, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara Diskominfo Jatim dan UIN Sunan Ampel Surabaya dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Ia menegaskan, generasi muda dipilih sebagai peserta utama karena memiliki peran strategis dalam perkembangan digitalisasi di Indonesia.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kominfo dan UINSA yang telah berkolaborasi dalam kegiatan ini. Gen Z menjadi sasaran utama karena digitalisasi sangat dekat dengan kehidupan anak muda. Mereka harus mampu menjadi pengguna ruang digital yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab,” ujarnya dalam sambutan.
Sementara itu, narasumber seminar sekaligus dosen Ilmu Politik UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. H. Moh. Syaeful Bahar, menekankan pentingnya generasi muda mengambil peran aktif dalam menghadapi era digitalisasi.
Menurutnya, perkembangan teknologi harus diarahkan dalam koridor positif agar ruang siber tidak dipenuhi informasi menyesatkan maupun hoaks yang dapat memengaruhi demokrasi.
“Kita harus mengambil alih era digitalisasi anak muda dengan cara yang positif. Ruang digital harus dijaga agar tetap sehat dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahaya penyebaran informasi palsu yang terus diulang di media sosial hingga dianggap sebagai sebuah kebenaran.
“Kebohongan yang diulang-ulang bisa dianggap sebagai kebenaran. Karena itu literasi digital menjadi sangat penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu memilah informasi secara bijak,” tegasnya.
Seminar berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang aktif berdialog dan menyampaikan pertanyaan terkait tantangan demokrasi di ruang digital. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab antara narasumber dan peserta seminar.