RADARBANGSA.COM - Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam menjaga kerukunan umat beragama dan mencegah konflik sosial berdimensi keagamaan di wilayah tersebut.
Ajakan itu disampaikan Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sumut, Syafrizal Bancin, dalam kegiatan yang membahas strategi penguatan dan perawatan kerukunan umat beragama serta upaya pencegahan konflik sosial keagamaan di Medan, Kamis (2/7/2026).
"Kegiatan ini membahas strategi penguatan, perawatan, kerukunan umat beragama, dan pencegahan konflik sosial keagamaan," ujar Syafrizal.
Menurutnya, mempertemukan para pemangku kebijakan utama merupakan langkah strategis mengingat Sumatera Utara merupakan daerah yang memiliki keragaman etnis dan agama yang sangat tinggi.
Ia menilai, apabila tokoh agama dan para pemangku kebijakan bergandengan tangan dalam membina serta mengayomi masyarakat, maka situasi keamanan dan kondusivitas di Sumatera Utara akan tetap terjaga.
Syafrizal juga mengajak para pemuka agama, khususnya penyuluh agama, untuk aktif turun ke masyarakat agar pesan-pesan moderasi beragama benar-benar dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Pada dasarnya, semua agama mengajarkan kedamaian, keharmonisan, dan kasih sayang," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Utara, Mulyono, menegaskan bahwa menjaga keamanan dan kerukunan merupakan syarat penting agar pembangunan di daerah dapat berjalan dengan baik.
Ia menjelaskan, keberagaman di Sumatera Utara juga menyimpan potensi konflik, baik yang berkaitan dengan politik, sosial-ekonomi, agraria, maupun persoalan keagamaan.
"Tantangan terbesar kita hari ini adalah kemajuan teknologi, dan media sosial. Konflik yang awalnya kecil sering kali dipoles oleh pihak yang tidak bertanggungjawab hingga menjadi besar di dunia maya," ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumut, M. Hatta Siregar, mengatakan pihaknya terus menjalankan berbagai strategi untuk menjaga iklim toleransi dan moderasi beragama di provinsi tersebut.
Menurutnya, FKUB berkomitmen menjalankan lima ikhtiar utama, yakni menggelar dialog lintas iman secara berkala, menerbitkan deklarasi dan imbauan damai, membangun kolaborasi dan sinergi antarlembaga keagamaan, memperkuat program Moderasi Beragama, serta melaksanakan penyuluhan kerukunan berbasis komunitas.
"Kemudian, penguatan program Moderasi Beragama, dan melaksanakan penyuluhan kerukunan berbasis komunitas," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Satgas Densus 88 Antiteror Polri, Kompol Albert Arisandi, mengungkapkan bahwa meski secara historis Sumatera Utara pernah menjadi salah satu wilayah yang memiliki aktivitas kelompok ekstremis, kondisi keamanan saat ini menunjukkan perkembangan positif.
"Namun berkat kerja keras bersama, Sumatera Utara mempertahankan status zero peristiwa teror selama 3,5 tahun terakhir," katanya.
Meski demikian, Albert mengingatkan adanya perubahan pola gerakan kelompok radikal yang kini lebih banyak memanfaatkan ruang digital dibandingkan aktivitas fisik.
"Provokasi di media sosial kini semakin masif. Karena ruang gerak fisik makin sempit, mereka bergeser ke platform online. Ini tantangan bersama kita," jelasnya.
Melalui penguatan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, aparat keamanan, dan masyarakat, diharapkan kerukunan umat beragama di Sumatera Utara tetap terjaga serta mampu menangkal potensi konflik maupun penyebaran paham radikal di era digital.