RADARBANGSA.COM - Di tengah menguatnya polarisasi sosial, disrupsi teknologi, krisis etika publik, hingga menurunnya kualitas ruang dialog kebangsaan, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Jawa Timur menegaskan pentingnya mengembalikan peran kaum intelektual sebagai penuntun arah peradaban bangsa.
Penegasan tersebut mengemuka dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Jawa Timur 2026 yang digelar di Gedung Plaza Airlangga lantai 5, Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya, Sabtu (4/7/2026).
Forum ini mengangkat tema “Meneguhkan Peran Intelektual Muslim sebagai Suluh Peradaban Inklusif dan Transformatif.”
Muswil diawali dengan seminar nasional yang menghadirkan akademisi, kepala daerah, tokoh agama, hingga cendekiawan lintas iman.
Forum tersebut menjadi ruang dialog yang mempertemukan ilmu pengetahuan, nilai kebangsaan, serta komitmen bersama dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia.
Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara, di antaranya Arief Satria, Emil Elestianto Dardak, Nafik Hadi Ryandono, dan Daniel Rohi dengan moderator Hesti Arimulan. Para narasumber menyoroti pentingnya kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan, penguatan budaya riset, pembangunan ekonomi berkeadilan, serta penguatan dialog lintas iman sebagai fondasi kehidupan kebangsaan yang damai dan inklusif.
Dalam paparannya, Ketua ICMI Pusat sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Arief Satria, menegaskan bahwa Indonesia pernah mengalami kemunduran rasionalitas ilmu akibat warisan kolonialisme yang meminggirkan tradisi berpikir kritis.
“Ilmu pengetahuan kehilangan maknanya apabila hanya berhenti di ruang akademik. Ilmu harus menjadi kekuatan yang membebaskan manusia dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan berbagai bentuk dehumanisasi. Karena itu, ilmu harus diabdikan bagi kesejahteraan manusia,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia Jawa Timur, Dr. Daniel Rohi, menilai akar dari berbagai konflik sosial berawal dari tumbuhnya sikap
eksklusif yang menutup ruang dialog.
Menurutnya, kehadiran tokoh lintas agama dalam seminar nasional ICMI menjadi bukti bahwa peradaban hanya dapat dibangun melalui keterbukaan, saling menghormati, dan kolaborasi antarkelompok masyarakat.
Usai seminar nasional, Muswil dilanjutkan dengan agenda organisasi berupa penyampaian laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode 2021–2026, perumusan arah kebijakan organisasi lima tahun ke depan, serta pemilihan Ketua Umum ICMI Jawa Timur periode 2026–2031.
Melalui Muswil ini, ICMI Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk mengembalikan marwah kaum intelektual sebagai penjaga akal sehat bangsa, penuntun arah peradaban, sekaligus penggerak transformasi sosial.
Di tengah derasnya arus disrupsi dan polarisasi, Indonesia dinilai membutuhkan lebih banyak intelektual yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berintegritas, inklusif, berani menyuarakan kebenaran, serta mampu mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan.
“Peradaban tidak lahir dari kekuasaan semata, tetapi dari keberanian intelektual yang mengabdikan ilmu bagi kemanusiaan.”
Pernyataan tersebut menjadi semangat utama dalam Muswil ICMI Jawa Timur 2026, bahwa organisasi cendekiawan bukan sekadar wadah berhimpun, melainkan kekuatan moral dan intelektual yang dapat menjadi suluh bangsa dalam menghadapi tantangan zaman.