Jelang Muktamar, Forbes NU 26 Soroti Diplomasi PBNU dan Isu Normalisasi Israel

Sabtu, 11 Juli 2026 19:30 WIB
Flayer Rembug Warga NU Jabodetabek seri ketiga (ist)
Flayer Rembug Warga NU Jabodetabek seri ketiga (ist)

RADARBANGSA.COM - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), Forum Bersama (Forbes) NU 26 akan menggelar Rembug Warga NU Seri 3 bertema "NU di Tengah Badan Dunia Baru: Menggugat Arah Diplomasi PBNU & Jebakan Normalisasi Israel?" pada Minggu (12/7/2026) di Jakarta.

Forum ini menjadi ruang diskusi terbuka untuk mengkaji arah diplomasi internasional PBNU di tengah perubahan konstelasi geopolitik dunia. Forbes NU 26 menilai NU perlu melakukan evaluasi terhadap strategi hubungan internasional agar tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, independensi organisasi, serta kepentingan bangsa.

Koordinator Forbes NU 26, KH. Abdul Waidl mengatakan warga NU tidak boleh hanya menjadi penonton ketika arah organisasi diperdebatkan di ruang publik.

"NU adalah organisasi masyarakat sipil yang memiliki otoritas moral, bukan instrumen kepentingan geopolitik negara mana pun. Kerja sama internasional tentu penting, tetapi jangan sampai membuat NU kehilangan independensi atau terjebak menjadi legitimasi bagi agenda kekuatan global tertentu," ujar Abdul Waidl di Depok, Sabtu (11/7/2026).

Menurutnya, diplomasi NU harus dibangun di atas kepentingan umat, bangsa, dan nilai-nilai kemanusiaan universal, bukan sekadar mengejar pengakuan internasional.

"Kita merindukan diplomasi NU yang percaya diri, memiliki posisi tawar, dan mampu berdialog dengan semua pihak tanpa kehilangan jati diri. NU harus mampu menjadi subjek yang ikut membentuk percakapan global, bukan hanya mengikuti arus yang dibentuk pihak lain," katanya.

Dalam forum tersebut, peserta akan mendiskusikan sejumlah isu yang menjadi perhatian warga Nahdliyin, antara lain dinamika hubungan NU dengan aktor-aktor internasional, polemik kunjungan sejumlah kader NU ke Israel, isu pendanaan lembaga donor internasional, serta posisi NU dalam menyikapi konflik kemanusiaan di Palestina dan perubahan tatanan dunia menuju sistem multipolar.

Abdul Waidl menegaskan bahwa seluruh isu tersebut akan dibahas secara terbuka dan argumentatif.

"Rembug ini bukan forum menghakimi siapa pun. Justru kami ingin membuka ruang dialog yang sehat menjelang Muktamar agar warga NU dapat memberikan masukan kritis mengenai arah diplomasi organisasi ke depan. Kritik adalah bagian dari ikhtiar memperkuat NU," tegasnya.

Diskusi akan menghadirkan tiga narasumber dari berbagai perspektif, yakni Prof. Dr. A. Hanief Saha Ghafur (Guru Besar SKSG UI dan Pengurus PBNU), Dr. Robi Sugara (Ketua Program Studi Hubungan Internasional UIN Jakarta), serta Prof. Greg Fealy (Associate Professor, Australian National University). Ketiganya akan membahas posisi NU dalam dinamika geopolitik global, diplomasi organisasi keagamaan, serta tantangan membangun pengaruh internasional yang tetap berakar pada aspirasi warga.

Melalui Rembug Warga Seri 3, Forbes NU 26 berharap Muktamar NU mendatang tidak hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi titik tolak penyusunan paradigma baru diplomasi NU yang lebih mandiri, strategis, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan universal.



Reporter : Fauzan
Redaktur : Ahmad Zubaidi
KATA KUNCI