Hadapi Ancaman Kekeringan, Pemkab Majalengka Optimalkan 156 Irigasi untuk Jaga Panen

Kamis, 13 Agustus 2026 11:30 WIB
Kondisi lahan pertanian yang ditanami padi di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. (Foto: Antara)
Kondisi lahan pertanian yang ditanami padi di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. (Foto: Antara)

RADARBANGSA.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka, Jawa Barat, memperkuat pengelolaan sumber air untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah musim kemarau 2026 yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan.

Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas lahan pertanian. Karena itu, antisipasi terhadap ancaman kekeringan harus dilakukan sejak awal agar petani tidak kehilangan hasil panen.

"Kalau kondisi El Nino cukup kuat seperti sekarang, jangan sampai petani kita kehilangan hasil panen. Karena itu, kebutuhan air harus kita antisipasi sejak awal," kata Eman di Majalengka, Rabu (12/8/2026).

Salah satu langkah yang dilakukan Pemkab Majalengka yakni mengoptimalkan 119 unit Irigasi Perpompaan (Irpom) dan 37 unit Irigasi Perpipaan (Irpip) yang telah disalurkan kepada kelompok tani di sejumlah wilayah.

Fasilitas tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman, khususnya pada musim tanam kedua. Kehadiran Irpom dan Irpip juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan.

Selain mengoptimalkan sarana irigasi, Pemkab Majalengka memperkuat sistem pengairan melalui penanganan sejumlah sodetan. Upaya tersebut mulai memberikan dampak terhadap kemampuan petani mengairi lahan, terutama di wilayah utara Majalengka.

Eman mencontohkan kondisi sekitar 2.000 hektare lahan pertanian di kawasan tersebut. Sebelumnya, hanya sekitar 500 hektare yang berpotensi dipanen karena keterbatasan air dan ancaman kekeringan.

Setelah sodetan ditangani, seluruh lahan seluas 2.000 hektare tersebut kini dapat ditanami dan memiliki peluang untuk dipanen.

"Perbaikan aliran air membuat cakupan lahan yang bisa dipanen meningkat. Yang sebelumnya hanya sebagian karena khawatir kekeringan, sekarang seluruh 2.000 hektare sudah memiliki peluang untuk dipanen," ujar Eman.

Pemkab juga menyiapkan langkah penanganan di wilayah Ligung, Bantarwaru, dan Leuweunghapit. Salah satu solusi jangka pendek yang didorong adalah penggunaan pompa bertenaga surya untuk menekan biaya operasional pengairan.

Untuk jangka panjang, Pemkab Majalengka mengusulkan pembangunan sodetan sepanjang sekitar 700 meter di Saluran Sindupraja.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka Gatot Sulaeman mengatakan pihaknya memastikan seluruh sarana Irpom dan Irpip yang telah diberikan dapat berfungsi serta dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani.

"Kami tidak hanya menyalurkan sarana, tetapi juga mengecek pemanfaatannya di lapangan. Daerah yang rawan kekeringan terus kami petakan agar penanganannya lebih tepat," katanya.

Selain penguatan sistem pengairan, Pemkab Majalengka juga mendorong perbaikan jaringan irigasi yang mengalami kerusakan. Pemerintah daerah turut mengusulkan pembangunan embung di sejumlah wilayah, termasuk Mekarjaya, kepada pemerintah pusat.

Upaya menjaga ketahanan pangan tersebut diperkuat dengan penetapan 40.700 hektare lahan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) bersama ATR/BPN.

Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan lahan produksi pangan sekaligus memastikan sektor pertanian Majalengka tetap mampu berproduksi di tengah ancaman kekeringan dan perubahan kondisi iklim.



Reporter : Abdul Rahman Wahid
Redaktur : Rahmad Novandri