Sampah Kota Magelang Tembus 95,7 Persen, Damar Bidik Zero Waste Akhir 2026

Jum'at, 14 Agustus 2026 19:02 WIB
Jajaran Pemkot Magelang (foto: istimewa)
Jajaran Pemkot Magelang (foto: istimewa)

RADARBANGSA.COM – Persoalan sampah di Kota Magelang perlahan mulai menemukan titik terang. Tingkat pengelolaan sampah kini telah mencapai 95,7 persen, namun pemerintah daerah masih harus menuntaskan 4,3 persen sampah yang berpotensi berakhir dengan cara dibakar atau dibuang ke sungai.

Untuk mengejar target tersebut, Pemerintah Kota Magelang mulai membuka ruang kolaborasi pengembangan teknologi Waste to Energy (WTE)/Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bagian dari penguatan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, Pemkot Magelang menargetkan persoalan sampah dapat dituntaskan menuju kondisi zero waste pada akhir 2026. Hal itu disampaikannya dalam Sosialisasi Program Waste to Energy/Refuse Derived Fuel (RDF) dan Pengembangan Kolaborasi Pengelolaan Sampah di Ruang Sidang Lantai 2 Setda Kota Magelang, Kamis (13/8/2026) kemarin.

“Penyelesaian persoalan sampah tidak hanya bergantung pada pengangkutan, tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat di tingkat hulu,” katanya.

Ia menjelaskan, penguatan pengelolaan di tingkat hulu perlu dilakukan secara terintegrasi. Edukasi pemilahan sampah harus menjadi kebiasaan masyarakat, sementara bank sampah, kampung mandiri sampah, TPS 3R, transfer depo hingga berbagai fasilitas pengolahan harus berjalan sebagai satu sistem.

Di sisi hilir, Pemkot Magelang juga memastikan sistem pengangkutan dapat diselaraskan dengan kapasitas pengolahan di TPST Regional yang memiliki alokasi kapasitas mencapai 80 ton per hari. Dengan produksi sampah Kota Magelang sekitar 90-100 ton per hari, kebutuhan penguatan teknologi pengolahan menjadi semakin penting.

Damar menegaskan, paradigma pengelolaan sampah harus bergeser dari sekadar membuang menjadi mengolah sekaligus mengurangi. Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa hanya dihitung berdasarkan aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.

“Persoalan sampah tidak lagi semata-mata dapat dilihat dari sisi untung dan rugi, melainkan sebagai persoalan lingkungan dan sosial yang membutuhkan kehadiran negara,” tegasnya.

Tak hanya mengejar target zero waste, Pemkot Magelang juga menyatakan kesiapan menjadi lokasi percontohan pengembangan teknologi pengelolaan sampah. Dengan wilayah yang relatif kecil dan volume sampah yang terukur, Magelang dinilai memiliki karakteristik yang cocok sebagai tempat uji coba sebelum teknologi tersebut diterapkan di daerah lain.

“Kota Magelang siap menjadi pilot project-nya, siap menjadi laboratoriumnya,” tegasnya.

Melalui kombinasi perubahan perilaku masyarakat, penguatan fasilitas pengolahan, serta pemanfaatan teknologi WTE/RDF, Pemkot Magelang berharap sisa 4,3 persen sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah dapat ditekan hingga menuju target zero waste pada penghujung 2026.




Reporter : Sugito
Redaktur : M. Isa