Menperin: Pemimpin BUMN Masa Depan Harus Berani Baca Perubahan, Bukan Terjebak Kesuksesan Lama

Jum'at, 21 Agustus 2026 07:02 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (foto: istimewa)
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (foto: istimewa)

RADARBANGSA.COM – Dunia usaha bergerak semakin cepat dan penuh ketidakpastian. Kondisi tersebut membuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kuat secara manajerial, tetapi juga mampu membaca perubahan dan mengambil langkah transformasi sejak dini.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menilai komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kualitas kepemimpinan BUMN menjadi langkah penting menghadapi tantangan global. Salah satunya melalui Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) yang dinilai sebagai terobosan dalam mencetak SDM BUMN yang andal dan memiliki jiwa patriot.

Menurutnya, pertanyaan paling penting yang harus dijawab setiap calon pemimpin adalah apakah bisnis yang dijalankan saat ini masih mampu bertahan dan relevan dalam lima hingga 10 tahun mendatang.

“Ketika saudara kembali ke perusahaan masing-masing, ada pertanyaan fundamental yang harus dijawab. Apakah bisnis perusahaan kita hari ini masih akan relevan lima atau sepuluh tahun dari sekarang? Pertanyaan ini harus menjadi perhatian utama karena perubahan dunia berlangsung semakin cepat dan ketidakpastiannya semakin tinggi,” kata Agus dalam rilisnya, Kamis, 20 Agustus 2026.

Ia menilai perubahan geopolitik dan geoekonomi kini dapat berlangsung sangat cepat dan berdampak langsung terhadap dunia usaha. Harga energi, rantai pasok, nilai tukar, suku bunga, perang dagang hingga perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dapat mengubah peta persaingan sekaligus model bisnis perusahaan.

Karena itu, Agus mengingatkan bahwa BUMN tidak cukup hanya mempertahankan apa yang sudah berhasil. BUMN memiliki posisi strategis karena bergerak di berbagai sektor penting, mulai dari energi, infrastruktur, pembiayaan, logistik, mineral, telekomunikasi, konstruksi hingga pangan. Kualitas pemimpinnya pun akan ikut menentukan arah perekonomian nasional.

“Dalam dunia yang berubah cepat, size is not security. Besarnya perusahaan bukan jaminan keamanan. Demikian pula, past success is not a guarantee of future relevance. Keberhasilan masa lalu tidak otomatis menjamin relevansi perusahaan di masa depan,” tegasnya.

Agus juga menyoroti semakin kompleksnya risiko yang harus dihadapi perusahaan. Perubahan regulasi mengenai emisi, traceability, keberlanjutan, standar ketenagakerjaan, antisuap, keamanan siber dan perlindungan data kini turut menentukan akses perusahaan terhadap pasar, pembiayaan dan mitra internasional.

“Yang membuat tantangan semakin berat adalah risiko tersebut tidak datang satu per satu. Perusahaan dapat menghadapi pelemahan nilai tukar, kenaikan harga energi dan suku bunga, penurunan permintaan, gangguan supply chain, serangan siber, serta perubahan regulasi secara bersamaan. Inilah yang saya sebut sebagai compound risks,” ujar Agus.




Reporter : Sugito
Redaktur : M. Isa