RADARBANGSA.COM - Upaya masyarakat Nagari Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dalam mempertahankan seni dan budaya lokal mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Agam. Pelestarian tradisi tersebut dinilai tidak hanya penting bagi generasi muda, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Agam Andri mengatakan, pelaksanaan Festival Seni Tabek Panjang menjadi salah satu bentuk nyata masyarakat dalam menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.
"Sesuai dengan visi misi Kabupaten Agam yang menerapkan `Adat basandi syara`, syara` basandi kitabullah`, mudah-mudahan tradisi dan ritual yang ditampilkan tadi bisa diwariskan ke generasi muda," kata Andri di Baso, Kamis (27/8/2026).
Festival Seni Tabek Panjang yang telah memasuki pelaksanaan kelima itu berlangsung meriah. Ribuan masyarakat Nagari Tabek Panjang tumpah ruah menyaksikan beragam atraksi budaya, ritual adat, hingga karnaval bertema hari kemerdekaan.
Menariknya, kemeriahan festival juga disaksikan sekitar 40 wisatawan mancanegara asal Malaysia yang sengaja didatangkan untuk menikmati kekayaan budaya masyarakat setempat.
Wali Nagari Tabek Panjang Doni Suhendri mengatakan, keterlibatan wisatawan mancanegara menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
"Kami mendatangkan sekitar 40 wisatawan mancanegara asal Malaysia. Ke depannya, pihak nagari berencana mengembangkan konsep paket wisata untuk memperkenalkan budaya lokal sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat," kata Doni.
Festival tahun ini juga menghadirkan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, penampilan budaya Jawa ikut ditampilkan dengan melibatkan sekitar 150 orang peserta pawai. Secara keseluruhan, jumlah peserta pawai diperkirakan mencapai 2.000 orang.
Doni menegaskan, pariwisata bukan menjadi fokus utama festival. Perhelatan tersebut tetap mengedepankan seni dan adat budaya lokal sebagai roh utama kegiatan.
"Festival tetap berfokus pada penampilan adat budaya lokal dengan pariwisata sebagai unsur penunjang. Nagari ini memiliki keunikan karena terdiri dari tiga jorong dengan adat dan tradisi yang berbeda-beda, sehingga disatukan menjadi tradisi adat salingka," ujarnya.
Menurut Doni, Tabek Panjang merupakan daerah yang heterogen dan banyak dihuni maupun dikunjungi masyarakat perantauan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah nagari untuk merangkul seluruh elemen masyarakat dalam membangun daerah.
"Festival ini didukung sepenuhnya oleh tokoh adat dan masyarakat perantauan. Respon positif diberikan oleh para ninik mamak sehingga perhelatan adat lokal bahkan penampilan budaya masyarakat kami bersuku Jawa juga dapat terselenggara dengan baik," katanya.
Antusiasme terhadap festival juga datang dari wisatawan Malaysia. Encik Syukur mengaku terkesan dengan berbagai pertunjukan seni dan tradisi yang disaksikannya secara langsung.
"Ternyata di Minangkabau atau Sumatera Barat itu banyak kekayaan budaya dan adat istiadatnya. Kami baru pertama kali menyaksikan, ada benda-benda yang kuat kesatuan adatnya ditampilkan dengan hebat," katanya.
Pengalaman tersebut membuat Syukur berencana kembali membawa rombongan yang lebih besar pada pelaksanaan festival tahun depan. Ia juga berharap Festival Seni Tabek Panjang dapat masuk dalam paket wisata mancanegara di Indonesia.
"Saya akan membawa rombongan lebih banyak di tahun berikutnya dan berharap Festival Seni Tabek Panjang dimasukkan ke dalam paket wisata mancanegara di Indonesia," ujarnya.
Festival tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian adat dan budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata. Dengan melibatkan masyarakat, tokoh adat, perantau, hingga wisatawan mancanegara, tradisi lokal Tabek Panjang berpeluang semakin dikenal luas tanpa kehilangan akar budayanya.