Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Muktamirin Berbondong-bondong Ziarah ke Makam Mbah Wahab

Sabtu, 29 Agustus 2026 13:01 WIB
Para peziarah dan muktamirin berziarah ke makam Mbah Wahab, Sabtu (29/8). (Foto: Radarbangsacom)
Para peziarah dan muktamirin berziarah ke makam Mbah Wahab, Sabtu (29/8). (Foto: Radarbangsacom)

RADARBANGSA.COM - Gelaran muktamar ke-35 NU telah resmi dibuka pada Kamis (27/8) oleh Presiden Prabowo Subianto. Seiring berjalannya agenda muktamar, para muktamirin memanfaatkan momen untuk berziarah ke makam para pendiri dan kiai NU di Tambakberas, Jombang.

Pantauan redaksi Radarbangsa.com di lokasi makam salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, Sabtu (29/8), kawasan makam Mbah Wahab ramai bahkan jalan macet. Para peziarah tak henti-henti berdatangan untuk berziarah ke makam Mbah Wahab.

Para peziarah maupun muktamirin dari luar kota menyempatkan waktu untuk ziarah ke makam Mbah Wahab dan para pendiri NU lainnya di Jombang. Mereka berharap keberkahan hingga mendoakan muktamar NU berjalan lancar tanpa ada gangguan.

“Kita ingin mendoakan beliau dan mengenang perjuangannya. Mudah-mudahan semangat dan perjuangan para muassis NU bisa terus menjadi teladan bagi kita semua,” kata salah satu peziarah, Mujiono.

Sementara, para muktamirin yang turut berziarah mendokan gelaran muktamar berjalan lancar dan musyawarah mufakat.

"Semoga muktamar berjalan lancar. Musyawarah mufakat, terpilih pemimpin yang mengayomi seluruh jam`iyah," tutur muktamirin.

Mbah Wahab adalah seorang tokoh pergerakan dari pesantren. Ia dilahirkan di Tambakberas-Jombang, tahun 1888. Sebagai seorang santri yang berjiwa aktivis, ia tidak bisa berhenti beraktivitas, apalagi melihat rakyat Indonesia yang terjajah, hidup dalam kesengsaraan, lahir dan batin.

Sepulang dari Mekkah 1914, Wahab, tidak hanya mengasuh pesantrennya di Tambakberas, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional. Ia tidak tega melihat kondisi bangsanya yang mengalami kemerosotan hidup yang mendalam, kurang memperoleh pendidikan, mengalami kemiskinan serta keterbelakanagan yang diakibatkan oleh penindasan dan pengisapan penjajah.



Reporter : Rahmad Novandri
Redaktur : M. Isa