RADARBANGSA.COM - Demisioner Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengaku lega setelah peserta muktamar secara musyawarah mufakat menerima Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) masa kepengurusan 2021-2026 di GSG Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8). Dalam pidatonya saat sidang pleno pemberhentian kepengurusan PBNU 2021-2026, Gus Yahya bersyukur bisa menyelesaikan masa khidmat dengan baik.
"Alhamdulillah kami bisa mengakhiri masa Khidmat pengabdian ini dengan sebuah kelegaan. Kami mengucapkan terimakasih, atas kepercayaan yang telah diberikan. Mohon maaf atas segala kesalahan, kekurangan. Insya Allah masa Khidmat yang akan datang, menjadi lebih baik," ucap Gus Yahya dalam pidato terakhirnya sebagai Ketum PBNU, Minggu (30/8).
Dengan tuntasnya sidang pleno demisioner kepengurusan PBNU 2021-2026, maka agenda sidang pleno dilanjutkan pemilihan Rais Aam dan ketua umum PBNU, Minggu (30/8) malam. Pantauan redaksi Radarbangsa.com di GSG, pemilihan Rais Aam oleh AHWA telah tuntas dan sembilan kiai sepuh NU kembali menunjuk KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031.
Selanjutnya, peserta muktamar hingga Senin (31/8) dini hari melakukan penjaringan calon ketua umum PBNU periode mendatang. Adapun pimpinan sidang menyampaikan calon yang akan dipilih peserta muktamar maksimal lima calon yang telah disepakati dan diusulkan oleh pemilik hak suara muktamar, yakni PWNU, PCNU, dan PCINU.
Sebelumnya, peserta muktamar telah menyepakati pembahasan komisi-komisi dan rekomendasi hasil muktamar untuk dijalankan pada periode kepengurusan PBNU periode berikutnya. Sejumlah rekomendasi disepakati secara musyawarah mufakat oleh peserta muktamar dalam sidang pleno pada Jumat (28/8) hingga Sabtu (29/8).