RADARBANGSA.COM - Gelaran Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang menjadi pengingat dan literasi sejarah bagi perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama (NU), khususnya KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab. Jejak perjuangan Mbah Wahab masih terus diingat hingga berlangsungnya muktamar NU tahun 2026.
Lahir di Tambakberas, Jombang pada 31 Maret 1888 dari pasangan KH. Hasbullah Said dan Nyai Latifah, pengasuh Pesantren Tambakberas, Mbah Wahab tumbuh dalam tradisi pesantren hingga menimba ilmu di Tanah Suci Mekah.
Jejak yang ia tinggalkan di NU bukan sekadar jejak seorang pendiri organisasi, melainkan jejak cara berpikir: bagaimana keberagamaan dan kebangsaan bisa berjalan seiring, dan bagaimana institusi besar bisa dibangun bertahap dari pangkalan-pangkalan kecil yang terus ditarik kembali ke akar tradisi.
Belasan tahun sebelum NU terbentuk, ia sudah merintis serangkaian organisasi yang kelak menjadi embrio kelahiran NU. Pada 1916, bersama tokoh-tokoh muda seperti Mas Mansur, ia mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Bangsa) untuk memperjuangkan upaya kemerdekaan dan membangkitkan semangat nasionalisme pada pemuda. Dari sinilah terlihat bahwa kaderisasi sejak awal menjadi bagian penting dari cara Mbah Wahab membangun gerakan.
Pada tahun ini pula, Mbah Wahab menciptakan lagu Yalal Wathan atau yang hari ini lebih populer disebut Syubbanul Wathan. Mulanya, lagu ini digunakan Mbah Wahab untuk santri-santrinya sebelum kegiatan belajar di madrasah untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air. Hingga hari ini, Yalal Wathan masih terus digaungkan di berbagai agenda Nahdiyyin sebagai simbol dan sejarah perjuangan Mbah Wahab.
Setelah NU berdiri, Mbah Wahab menjadi salah satu motor yang memastikan NU tidak berhenti sebagai perkumpulan para ulama, melainkan berkembang menjadi organisasi yang memiliki jaringan, kader, dan daya gerak di tengah masyarakat. Kemampuan dan dipomasi Mbah Wahab dalam membangun komunikasi, merawat hubungan antar kiai, serta menjembatani kepentingan keagamaan dengan persoalan kebangsaan menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjalanan awal NU.
Ketika Indonesia memasuki masa revolusi, jejak perjuangan Mbah Wahab kembali terlihat dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Ia berada dalam barisan ulama yang menjadikan NU bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi juga bagian dari kekuatan sosial yang mempertahankan republik. Dalam konteks inilah semangat kebangsaan yang sejak muda ditanamkan melalui pendidikan, organisasi, dan dakwah menemukan bentuk konkretnya: kemerdekaan yang telah diraih harus dipertahankan dan diisi dengan tanggung jawab.
Salah satu momentum penting dalam fase tersebut adalah lahirnya Resolusi Jihad NU pada Oktober 1945. Bersama para ulama NU lainnya, Mbah Wahab berada dalam perjuangan yang menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
Fatwa ini mewajibkan setiap umat Islam, khususnya para santri dan ulama, untuk mengangkat senjata melawan tentara Sekutu dan Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia setelah Proklamasi, terutama menjelang Pertempuran Surabaya. Dengan demikian, gagasan kebangsaan Mbah Wahab tidak berhenti sebagai semboyan, tetapi hadir dalam keputusan-keputusan yang menempatkan keselamatan bangsa dan negara sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Pada fase akhir pengabdiannya, Mbah Wahab tetap menjadi salah satu figur sentral dalam kepemimpinan NU. Ia dipercaya sebagai Rais Aam hingga akhir hayatnya, termasuk ketika Muktamar NU ke-25 di Surabaya pada Desember 1971 kembali mengamanahkan posisi tersebut kepadanya. Beberapa hari setelah muktamar tersebut, Mbah Wahab wafat pada 29 Desember 1971 di usia 83 tahun.
Atas jasa-jasanya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada 7 November 2014.