Agam Usulkan 1.000 Hektare Sawah Terlantar Diaktifkan Kembali pada 2027

Senin, 31 Agustus 2026 17:35 WIB
Puluhan hektare lahan sawah di Taruyan, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam terlantar pascabencana alam. (Foto: Antara)
Puluhan hektare lahan sawah di Taruyan, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam terlantar pascabencana alam. (Foto: Antara)

RADARBANGSA.COM - Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengusulkan sekitar 1.000 hektare lahan sawah terlantar untuk diaktifkan kembali pada 2027. Lahan tersebut selama ini tidak dapat diolah petani akibat terdampak bencana maupun kerusakan jaringan irigasi.

Kepala Dinas Pertanian Agam Heri Prasetyo Wibowo di Lubuk Basung, Minggu, mengatakan usulan tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada tahun ini. Pemkab Agam berharap pemerintah pusat dapat merealisasikan program tersebut pada 2027.

"Kita sudah mengusulkan pada tahun ini dan berharap direalisasikan Kementerian Pertanian pada tahun depan," katanya, Minggu (30/8/2026).

Menurut Heri, lahan sawah yang diusulkan tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Agam. Sebagian lahan tidak lagi produktif karena terdampak bencana, sementara sebagian lainnya terkendala kerusakan jaringan irigasi.

Akibat kondisi tersebut, sejumlah areal persawahan tertimbun material longsor. Petani juga mengalami kesulitan memperoleh pasokan air untuk kembali mengolah lahan.

"Untuk itu, diusulkan untuk dibuka dan pembangunan irigasi yang rusak ke kementerian, sehingga petani dengan mudah mendapatkan air untuk mengolah lahan," ujarnya.

Heri menilai pengaktifan kembali lahan tersebut tidak hanya akan meningkatkan luas areal pertanian produktif, tetapi juga berdampak terhadap pendapatan petani dan produksi padi di Kabupaten Agam.

"Dengan terbukanya lahan ini, maka menambah pendapatan petani dan produktifitas padi di Agam akan meningkat," katanya.

Selain mengusulkan pembukaan kembali 1.000 hektare sawah terlantar, Pemkab Agam pada 2026 telah mendapatkan program rehabilitasi sawah seluas 311 hektare.

Heri mengatakan lahan yang direhabilitasi tersebut merupakan persawahan yang terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda Agam pada akhir 2025.

Saat ini, progres rehabilitasi telah mencapai 100 persen. Pengerjaannya dilakukan secara swakelola dengan melibatkan 20 kelompok tani.

Program tersebut diarahkan untuk mempercepat pemulihan lahan persawahan yang rusak akibat bencana, sehingga dapat kembali dimanfaatkan untuk kegiatan produksi pertanian.

Melalui program rehabilitasi sawah dan optimalisasi lahan yang dialokasikan Kementerian Pertanian, lahan persawahan yang terdampak bencana diharapkan dapat kembali diolah dan ditanami petani.

"Ini merupakan komitmen dari kita untuk segera menyelesaikan seluruh proses perbaikan dan pemulihan lahan sawah, sebagai bagian dari upaya menjaga ekonomi masyarakat dan memantapkan ketahanan pangan," ujar dia.

Selain rehabilitasi lahan sawah, program optimalisasi lahan juga difokuskan pada perbaikan sejumlah infrastruktur pertanian. Di antaranya irigasi perpompaan, irigasi tersier, dam parit, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkab Agam untuk mengembalikan lahan pertanian yang terdampak bencana sekaligus memperluas areal sawah produktif. Dengan kembali berfungsinya lahan dan infrastruktur irigasi, petani diharapkan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.



Reporter : Abdul Rahman Wahid
Redaktur : Rahmad Novandri