RADARBANGSA.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat sebanyak 615 kasus kebakaran terjadi di berbagai wilayah sepanjang 1 Januari hingga 30 Agustus 2026. Kebakaran tersebut meliputi hutan dan lahan serta gedung dan kawasan permukiman.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sumarno mengatakan, dari total kejadian tersebut, sebanyak 282 kasus merupakan kebakaran hutan dan lahan. Sementara 333 kasus lainnya terjadi pada gedung dan permukiman.
Data tersebut disampaikan Sumarno saat menghadiri Apel Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel Relawan Kebencanaan di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Penggaron, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (4/9/2026).
Menurut Sumarno, peningkatan kapasitas dan kompetensi relawan menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan bencana. Relawan yang memiliki kemampuan memadai dinilai dapat mengambil tindakan secara cepat dan tepat ketika terjadi kondisi darurat.
“Kami mengapresiasi dan sangat support kegiatan peningkatan kapasitas teman-teman relawan. Ini menjadi bagian tanggung jawab pemerintah daerah agar kalau ada kebencanaan, penanganannya bisa lebih cepat,” ujar Sumarno.
Ia menilai kecepatan respons di lapangan sangat dipengaruhi oleh kompetensi para relawan. Penanganan yang cepat diharapkan dapat menekan potensi kerugian materi maupun risiko jatuhnya korban jiwa.
Memasuki musim kemarau, Pemprov Jawa Tengah juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan tempat pembuangan sampah. Sumarno mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, khususnya di sekitar permukiman maupun lahan yang rawan terbakar.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan pelatihan tersebut diikuti sekitar 150 relawan terpilih dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Pelatihan melibatkan instruktur dari Basarnas dengan materi yang berfokus pada peningkatan kemampuan pencarian dan pertolongan, termasuk Urban Search and Rescue (Urban SAR).
Bergas menjelaskan, berdasarkan pemetaan risiko, sebagian besar kasus kebakaran didominasi kejadian di lahan pertanian dan perkebunan. Faktor kelalaian manusia atau human error disebut menjadi salah satu penyebab utama.
“BPBD tetap harus siap. Begitu terdeteksi titik panas (hotspot) yang berefek pada potensi kebakaran, kita langsung bergerak memadamkan bekerja sama dengan Damkar setempat,” katanya.
Pemprov Jawa Tengah bersama BPBD dan instansi terkait terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.
Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi memicu kebakaran.