RADARBANGSA.COM - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ijen, Kabupaten Bondowoso, terus dilakukan secara intensif. Sejumlah titik api di wilayah Cangkringan dan Kalipahit menjadi fokus penanganan pada Selasa (8/9/2026).
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid bersama Wakil Bupati As’ad Yahya Syafi’i turun langsung memantau penanganan karhutla. Keduanya meninjau kondisi kawasan terdampak melalui udara menggunakan helikopter BPBD dengan didampingi Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bondowoso.
Pemantauan udara dilakukan untuk mengetahui perkembangan titik api dan memperkirakan luas area yang terbakar. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan berikutnya, baik melalui jalur udara maupun darat.
Bupati Bondowoso yang akrab disapa Ra Hamid menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan respons cepat serta sinergi seluruh pihak.
“Yang paling penting saat ini adalah memastikan api segera dikendalikan dan tidak meluas. Pemantauan dari udara dan penanganan di darat harus berjalan beriringan agar seluruh potensi yang ada dapat dikerahkan secara optimal,” ujarnya.
Penanganan karhutla di kawasan Ijen juga melibatkan koordinasi lintas daerah. Ra Hamid bersama Bupati Banyuwangi, Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, dan Kepala Basarnas Banyuwangi turut memantau kondisi kawasan terdampak dari udara.
Untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat, petugas mengerahkan operasi water bombing. Helikopter membawa air untuk dijatuhkan ke sejumlah lokasi yang terbakar.
Ra Hamid menilai kolaborasi antarwilayah menjadi kunci dalam menangani karhutla, khususnya di kawasan pegunungan dan wilayah yang berbatasan secara administratif.
“Karhutla tidak mengenal batas administrasi. Karena itu, koordinasi Bondowoso, Banyuwangi, dan seluruh unsur yang terlibat harus kuat. Kita bergerak bersama sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan,” katanya.
Selain melalui udara, pemantauan dan penanganan dari jalur darat terus dilakukan. Petugas mengawasi perkembangan api serta luasan area terdampak untuk memastikan setiap perubahan kondisi dapat segera ditindaklanjuti.
Kondisi vegetasi yang kering selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penyebaran api. Karena itu, langkah pencegahan tetap dilakukan bersamaan dengan upaya pemadaman.
Operasi water bombing juga direncanakan berlanjut ke kawasan Gunung Argopuro, tepatnya Savana Cikasur, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, setelah penanganan di kawasan Ijen.
Pengerahan tersebut merupakan bagian dari strategi penanganan karhutla secara terpadu dengan menyesuaikan perkembangan titik api dan kebutuhan di masing-masing lokasi.
“Prinsipnya, kita tidak boleh terlambat. Setiap titik api harus dipantau dan ditangani secepat mungkin. Keselamatan masyarakat dan kelestarian kawasan harus menjadi prioritas,” tegas Ra Hamid.