RADARBANGSA.COM - Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, diproyeksikan menjadi salah satu daerah strategis penopang industri bioetanol nasional. Potensi tersebut didukung melimpahnya hasil pertanian, terutama komoditas tebu, jagung, dan ubi kayu yang dapat menjadi bahan baku industri energi terbarukan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Muara Enim, Sumarni, dalam keterangan tertulisnya, Minggu, mengatakan pemerintah pusat menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam membangun ekosistem industri bioetanol, khususnya melalui penyediaan bahan baku secara berkelanjutan.
"Peran pemerintah daerah sangat krusial, terutama dalam hal penyediaan pasokan bahan baku yang berkelanjutan seperti tebu, singkong, dan jagung, serta dalam memfasilitasi investasi dan penyusunan regulasi lokal," katanya, Minggu (27/9/2026).
Menurut Sumarni, Muara Enim memiliki modal pertanian yang cukup memadai untuk mendukung rantai pasok industri bioetanol.
Data sektor pertanian daerah menunjukkan produksi sejumlah komoditas yang dapat menjadi bahan baku bioetanol cukup signifikan. Jagung tercatat memiliki luas lahan 53 hektare dengan realisasi produksi mencapai 2.828 ton.
Sementara itu, ubi kayu dikembangkan di lahan seluas 351 hektare dengan realisasi produksi mencapai 11.953 ton per tahun.
Adapun pengembangan komoditas tebu mulai dirintis di Desa Talang Taling, Kecamatan Gelumbang, dengan luas panen lima hektare dan estimasi produksi mencapai 500 ton.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pemkab Muara Enim menyiapkan tiga strategi utama, yakni pemetaan dan penyediaan lahan, peningkatan kapasitas petani, serta percepatan perizinan investasi.
Pada sektor hulu, pemerintah daerah akan mengidentifikasi dan mengalokasikan lahan potensial maupun lahan kritis yang tidak produktif melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Lahan tersebut nantinya diarahkan untuk penanaman komoditas yang menjadi bahan baku bioetanol.
Selain memperkuat ketersediaan lahan, Pemkab Muara Enim juga berupaya meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani lokal melalui pelatihan teknis budidaya, distribusi bantuan bibit unggul, hingga penyediaan pupuk berkualitas.
"Melalui intervensi hulu ini, kualitas hasil panen para petani diharapkan mampu memenuhi standar industri bioetanol secara konsisten dan berkelanjutan ke depannya," harapnya.
Sementara di sektor hilir, Sumarni menegaskan Pemkab Muara Enim berkomitmen memberikan kemudahan dan mempercepat proses perizinan berusaha bagi investor yang berminat membangun pabrik pengolahan bioetanol di daerah tersebut.
"Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, Muara Enim optimistis dapat bertransformasi menjadi salah satu lumbung energi terbarukan yang berkontribusi nyata bagi ketahanan nasional," ujarnya.