RADARBANGSA.COM - Sampah plastik low value yang selama ini sulit memiliki nilai ekonomi di Kabupaten Banjarnegara kini diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif.
Inovasi tersebut dilakukan Bank Sampah Banjarnegara (BSB) di Desa Kasilib, Kecamatan Wanadadi, menggunakan teknologi mesin pirolisis.
Hasil pengolahan sampah plastik tersebut menghasilkan bahan bakar alternatif yang disebut petasol. Inovasi ini mendapat apresiasi dari Komisi III DPRD Banjarnegara saat melakukan kunjungan kerja ke BSB, Rabu (30/9/2026).
Anggota Komisi III DPRD Banjarnegara, Arya Achmad Zakaria, menilai pengolahan sampah plastik menjadi BBM alternatif memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai model pengelolaan sampah di daerah.
“Bank Sampah Banjarnegara ini bisa menjadi pilot project dalam penanganan sampah plastik, terutama low value,” kata Arya.
Ketua BSB Budi Trisno Aji menjelaskan, proses produksi diawali dengan pengumpulan sampah plastik dari masyarakat. Sampah tersebut kemudian dipilah sebelum dimasukkan ke mesin pirolisis untuk diproses dan selanjutnya dimurnikan menjadi bahan bakar.
“Rata-rata kami mengolah sekitar 300 kilogram sampah plastik setiap hari,” ujar Budi.
Bahan baku pengolahan tidak hanya berasal dari Desa Kasilib, tetapi juga diperoleh dari sejumlah desa dan komunitas di sekitar Banjarnegara, seperti Desa Luwung, Kecamatan Rakit, dan Desa Kalijambe.
Dari sekitar 300 kilogram sampah plastik yang diproses setiap hari, produksi petasol disebut dapat mencapai sekitar 80 persen dari total bahan baku.
Produk petasol selanjutnya dipasarkan dengan sistem business to business (B2B). Anggota komunitas BSB dapat memperoleh produk tersebut secara langsung, sedangkan masyarakat umum dapat mendapatkannya melalui sistem barter menggunakan sampah plastik.
Untuk petasol dengan spesifikasi setara solar yang digunakan petani, harga dibanderol sekitar Rp11.000 per liter. Sementara petasol untuk kendaraan dijual sekitar Rp13.000 per liter.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banjarnegara Herina Indri mengatakan, sampah plastik menyumbang sekitar 30 persen dari total timbulan sampah di daerah tersebut. Sebagian di antaranya merupakan sampah plastik low value yang selama ini sulit dimanfaatkan secara ekonomi.
Menurut Herina, tantangan berikutnya adalah membangun ekosistem pengelolaan sampah yang mampu menangani sampah low value maupun high value secara optimal.
“Pengelolaan sampah harus dibangun dari hulu sehingga sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir bisa ditekan,” ujarnya.
Pengolahan sampah plastik menjadi BBM alternatif tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari sampah yang sebelumnya sulit dimanfaatkan.