CKG di Depok Tembus 87,14 Persen, Dinkes Gencarkan Jemput Bola ke Permukiman Warga

Kamis, 01 Oktober 2026 17:30 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Devi Maryori. (Foto: Antara)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Devi Maryori. (Foto: Antara)

RADARBANGSA.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Jawa Barat, terus meningkatkan pelayanan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat umum sebagai upaya mendeteksi potensi risiko kesehatan sejak dini.

Berdasarkan data Dashboard Sehat Indonesiaku Kementerian Kesehatan per 23 September 2026, tingkat kehadiran masyarakat Kota Depok dalam program CKG mencapai 87,14 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Devi Maryori mengatakan pelayanan CKG tidak hanya dilakukan di dalam fasilitas kesehatan, tetapi juga diperluas melalui mekanisme jemput bola.

"Petugas puskesmas melaksanakan CKG di dalam dan luar puskesmas secara berkala melakukan mekanisme jemput bola mendatangi lokasi keramaian hingga pemukiman warga," kata Devi Maryori di Depok, Rabu (30/9/2026).

Devi menjelaskan, hingga 23 September 2026 tercatat 413.148 orang telah hadir dan menjalani pemeriksaan kesehatan dari total pendaftar sebanyak 474.114 peserta.

Peserta CKG tersebut berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga lansia.

Menurut Devi, CKG merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang ditujukan bagi seluruh kelompok usia masyarakat. Pemeriksaan dilakukan untuk menemukan berbagai faktor risiko kesehatan sedini mungkin sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

Jenis pemeriksaan yang diberikan pun disesuaikan dengan kelompok usia peserta. Untuk bayi mulai usia dua hari, pemeriksaan mencakup deteksi kekurangan hormon tiroid, tes kadar enzim G6PD, kelainan adrenal, serta penyakit jantung bawaan yang dapat dilakukan di fasilitas kesehatan. Selanjutnya, dilakukan pula pemantauan terhadap masalah pertumbuhan.

Sementara bagi balita dan anak prasekolah, pemeriksaan meliputi pertumbuhan dan perkembangan, deteksi dini tuberkulosis (TBC), gangguan pendengaran, masalah penglihatan, kesehatan gigi, talasemia, hingga risiko diabetes melitus melalui pemeriksaan kadar gula darah.

Pada anak usia sekolah, pemeriksaan mencakup antropometri, tekanan darah, gula darah, serta deteksi gangguan penglihatan dan pendengaran. Skrining anemia juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan anak secara lebih dini.

Untuk kelompok dewasa, cakupan pemeriksaan lebih luas. Di antaranya evaluasi faktor risiko kardiovaskular, deteksi tuberkulosis (TB) dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta deteksi dini sejumlah penyakit kanker.

Pemeriksaan juga mencakup deteksi dini kanker leher rahim, kanker paru, kanker usus, fungsi indera, kesehatan jiwa, organ hati, serta pemeriksaan khusus bagi calon pengantin.

Adapun bagi kelompok lansia, pemeriksaan difokuskan pada aspek geriatri, gangguan kardiovaskular, kesehatan paru, skrining kanker, fungsi indera, serta evaluasi kesehatan jiwa dan hati.

Devi mengimbau masyarakat Depok untuk memanfaatkan layanan CKG secara rutin. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan secara berkala penting untuk mengetahui kondisi tubuh sekaligus menemukan potensi penyakit sebelum berkembang lebih serius.

"Kami mengimbau warga Depok untuk partisipasi aktif mengikuti CKG minimal 1 tahun sekali dan menindaklanjuti hasil CKG dengan menerapkan pola hidup sehat," ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat yang telah mendapatkan diagnosis penyakit tertentu agar tidak berhenti pada pemeriksaan awal, tetapi melanjutkan pengobatan dan pemantauan di fasilitas kesehatan.

"Jika sudah terdiagnosa memiliki penyakit tertentu, maka diharapkan rutin kontrol di fasilitas kesehatan untuk mendapatkan tatalaksana penyakit sesuai standar, demi menjaga kualitas hidup yang sehat," tuturnya.

Dengan capaian kehadiran yang telah mencapai 87,14 persen, Dinkes Depok terus mendorong partisipasi masyarakat agar semakin banyak warga memperoleh pemeriksaan kesehatan secara berkala dan dapat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini.



Reporter : Abdul Rahman Wahid
Redaktur : Rahmad Novandri