Jangan Terburu-buru Memvonis Pondok Pesantren Al Khoziny

Selasa, 14 Oktober 2025 17:01 WIB
Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. (Foto: Pesantren Terbaik)
Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. (Foto: Pesantren Terbaik)

Oleh: Mahrus Ali

RADARBANGSA.COM - Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan oleh berita runtuhnya salah satu bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny. Musibah itu menimbulkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga besar pesantren, tetapi juga bagi masyarakat yang mengenal sejarah panjang lembaga pendidikan tersebut. Namun yang disayangkan, belum genap luka itu kering, muncul berbagai suara yang terburu-buru memvonis, bahkan mendesak agar pondok pesantren itu ditutup dan dibekukan.

Sikap semacam ini bukan hanya tidak bijak, tetapi juga mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap konteks pesantren dan sejarah perjuangannya. Runtuhnya bangunan bukanlah tindak kesengajaan, melainkan bencana yang bisa menimpa siapa pun dan di mana pun. Kita tidak bisa menilai seluruh sistem, apalagi mematikan lembaga pendidikan yang telah berabad-abad menanamkan nilai-nilai keilmuan dan keislaman, hanya karena satu peristiwa yang bersifat force majeure.

Pondok Pesantren Al Khoziny bukanlah lembaga sembarangan. Ia adalah salah satu pondok tua dengan sejarah keilmuan yang kuat dan sanad keilmuan yang jelas. Dari tempat inilah telah lahir para ulama dan pejuang bangsa. Sejarah mencatat, pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, bahkan Saykhona Kholil Bangkalan, memiliki keterikatan keilmuan dengan almaghfurlah KH. Khozin pendiri pondok tersebut. Ini menunjukkan bahwa Al Khoziny bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan bagian dari warisan spiritual dan intelektual bangsa Indonesia.

Tidak ada satu pun kiai yang menginginkan gedung pesantrennya roboh. Tidak ada pengasuh yang dengan sengaja menelantarkan santri atau membahayakan nyawa mereka apalagi sekelas pondok pesantren yang telah banyak distribusi bagi kemerdekaan, mempertahankan NKRI melalui benteng keilmuan dan agama. Semua peristiwa ini harus dilihat sebagai ujian, bukan alasan untuk mematikan semangat perjuangan. Alih-alih menutup, sudah sepatutnya negara hadir membantu, memperbaiki, dan memperkuat sistem keamanan serta infrastruktur pendidikan di pesantren-pesantren.

Kita tidak boleh lupa bahwa pondok pesantren merupakan pilar penting dalam membangun karakter bangsa. Di saat dunia pendidikan formal sibuk mengejar angka dan gelar, pesantren tetap menjadi benteng moral dan akhlak. Jika pondok tua seperti Al Khoziny diperlakukan dengan prasangka dan hukuman, maka itu sama saja dengan menghapus bagian dari sejarah perjuangan bangsa sendiri.

Musibah seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas, bukan memperkeruh luka. Mari berhenti memvonis, dan mulai menolong. Sebab dari pesantren seperti Al Khoziny-lah lahir manusia-manusia yang membangun negeri ini dengan keikhlasan dan ilmu yang bersanad.

Pesantren bukan tempat kesalahan, tetapi tempat perjuangan. Dan perjuangan, sebagaimana sejarah mengajarkan, tidak selalu bebas dari cobaan.



Reporter : Redaksi
Redaktur : Redaksi