RADARBANGSA.COM - “Politik itu ibadah. Kekuasaan itu alat, bukan tujuan. Dan tujuan akhir kita hanya satu: maslahat untuk rakyat.” — KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Di tengah riuh politik hari ini, kita wajib bertanya: untuk apa kita berpolitik? Apakah sekadar berebut kursi dan anggaran? Atau ada yang lebih luhur?
Bagi PKB, jawabannya jelas seperti diwariskan Gus Dur: Politik adalah jalan pengabdian untuk mewujudkan kemaslahatan bangsa dan kesejahteraan rakyat.
Pertama, politik kemaslahatan berarti keberpihakan nyata pada rakyat kecil.
Kemaslahatan itu konkret. Ia ada di dapur warga yang kesulitan beli beras, di sawah petani yang pupuknya langka, di lapak pedagang yang resah tiap ada wacana kenaikan retribusi.
Maka setiap kebijakan negara harus diuji: apakah ia menyakiti yang lemah? Saat pemerintah ingin menaikkan pendapatan, pertanyaan pertamanya bukan “berapa targetnya”, tapi “siapa yang akan membayarnya?” Jika yang dikorbankan adalah PBB rumah subsidi, KIR angkot, atau retribusi pasar harian, maka itu bukan kemaslahatan. Itu kezaliman yang dilegalkan.
Kemaslahatan menuntut keberanian: menagih pajak dari yang besar dan mampu, menutup kebocoran anggaran, memberantas pungli, menyita aset koruptor. Kesejahteraan rakyat tidak lahir dari memeras yang miskin, tapi dari sistem yang adil dan bersih.
Kedua, politik kemaslahatan adalah politik yang hadir.
Bangsa ini tidak kurang debat ideologi. Yang langka adalah politik yang turun menyelesaikan masalah harian. Apa gunanya bicara bonus demografi jika jutaan anak muda menganggur? Apa artinya pertumbuhan ekonomi jika anak desa masih putus sekolah karena biaya?
Politik harus hadir memastikan pupuk sampai ke petani, UMKM dibina sampai naik kelas, layanan kesehatan tidak lagi jadi barang mewah, nelayan melaut dengan solar terjangkau. Bagi PKB, mengurus antrean BPJS itu politik. Memastikan santri bisa kuliah itu politik. Menolak tambang perusak lingkungan itu juga politik. Sebab semua hajat hidup orang banyak adalah ladang ibadah politik.
Ketiga, politik kemaslahatan merawat Indonesia.
Bangsa ini berdiri di atas keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika adalah takdir. Maka tugas politik adalah merawat tenun kebangsaan itu. Tolak politik identitas yang memecah belah. Lawan hoaks dan kebencian.
PKB lahir dari rahim NU membawa ajaran Aswaja: tawassuth moderat, tawazun seimbang, tasamuh toleran, i’tidal adil. Karena tidak ada kesejahteraan tanpa persatuan.
Jalan politik kemaslahatan memang tidak populer. Ia sepi tepuk tangan, tidak bagi-bagi uang lima tahunan. Ia jalan sunyi: mengawal anggaran, memastikan kebijakan pro-rakyat kecil, berani bilang tidak pada kekuasaan yang zalim.
Tapi dari jalan sunyi inilah kesejahteraan sejati lahir. Bukan angka statistik, melainkan senyum petani yang panennya dihargai, pedagang yang berjualan tanpa dipalak, anak Indonesia yang bisa bermimpi tinggi.
Bagi PKB, kekuasaan hanya alat untuk melayani. Sebab seperti pesan Gus Dur: “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.”
Selama politik berpihak pada kemanusiaan, kemaslahatan bangsa dan kesejahteraan rakyat bukan lagi cita-cita. Ia sedang kita kerjakan bersama.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq
Samsul Arifin
(Ketua DPC PKB Kabupaten Buleleng)