Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Pendidikan Pilar Utama dalam Kehidupan

Selasa, 05 Mei 2026 07:30 WIB
KETUA DPC PKB BULELENG (FOTO: ISTIMEWA)
KETUA DPC PKB BULELENG (FOTO: ISTIMEWA)

OLEH: H. Samsul Arifin, S.H. *


"Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" — Ki Hadjar Dewantara

Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal ini bukan sekadar seremoni kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Ia adalah momentum untuk bertanya: sudahkah pendidikan benar-benar menjadi pilar utama kehidupan berbangsa dan bernegara?

1. Pendidikan Adalah Janji Konstitusi

Pembukaan UUD 1945 Alinea IV dengan tegas mengamanatkan salah satu tujuan negara: “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Amanat ini diperkuat Pasal 31 ayat (1): “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Ayat (2): “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.”

Artinya, pendidikan bukan barang mewah. Ia hak dasar. Ia pilar. Tanpa pendidikan, kemerdekaan hanya jadi teks. Tanpa pendidikan, kedaulatan mudah digadaikan. Tanpa pendidikan, keadilan dan kemakmuran hanya jadi mimpi.

2. Realitas: Pilar yang Masih Retak

Kita harus jujur. Pilar pendidikan kita masih retak di banyak sisi. 

Masih ada anak bangsa yang putus sekolah karena biaya. Masih ada ijazah ditahan sekolah karena menunggak. Masih ada guru honorer digaji di bawah UMR padahal beban mengajarnya sama. Masih ada ruang kelas rusak, atap bocor, dan internet tidak masuk desa. Masih ada kesenjangan kualitas antara kota dan pelosok.

Di sisi lain, pendidikan kita diuji oleh krisis karakter. Tawuran pelajar, perundungan, narkoba, hingga lunturnya adab kepada guru. Ini tanda bahwa pendidikan belum sepenuhnya jadi pilar peradaban. Ia baru sebatas transfer ilmu, belum membentuk insan kamil.

Padahal Bung Karno pernah mengingatkan: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, dan bangsa yang cerdas adalah bangsa yang memuliakan gurunya.”

3. Mengokohkan Kembali Pilar Pendidikan

Jika pendidikan adalah pilar utama kehidupan, maka ada 3 hal yang wajib kita kokohkan bersama:

Pertama, pendidikan yang memerdekakan. Ki Hadjar Dewantara tidak ingin murid jadi robot hafalan. Ia ingin murid merdeka berpikir, merdeka berkreasi, merdeka menentukan masa depannya. Maka kurikulum tidak boleh membelenggu. Sekolah tidak boleh menakutkan. Guru tidak boleh jadi hakim, tapi jadi pamong.

Kedua, pendidikan yang mensejahterakan. Pendidikan harus jadi tangga mobilitas sosial. Anak petani harus bisa jadi insinyur. Anak nelayan harus bisa jadi dokter. Caranya: pemerintah hadir membiayai, dunia usaha buka beasiswa, dan praktik pungli di sekolah dilawan. Karena tidak ada kemiskinan yang lebih abadi daripada kemiskinan karena bodoh.

Ketiga, pendidikan yang berkarakter. Ilmu tanpa adab akan jadi bencana. Pintar tanpa jujur akan jadi koruptor. Cerdas tanpa empati akan jadi penindas. Maka pendidikan harus kembali ke khittah: mengajarkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Itulah Pancasila yang hidup di ruang kelas.

PKB dan Komitmen Pendidikan Rakyat

Bagi Partai Kebangkitan Bangsa yang lahir dari rahim pesantren, pendidikan adalah nafas perjuangan. Pesantren adalah bukti bahwa pendidikan bisa lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. 

Karena itu PKB akan terus mengawal: anggaran pendidikan 20% APBN/APBD tidak boleh disunat, guru honorer harus diangkat jadi PPPK, madrasah dan pesantren tidak boleh dianaktirikan, dan biaya pendidikan dasar-menengah harus benar-benar gratis. Sebab bagi kami, “memuliakan guru sama dengan memuliakan masa depan bangsa.”

Penutup: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia Emas

Hardiknas bukan panggung pidato. Ia alarm pengingat. Bahwa tidak ada bangsa maju tanpa pendidikan maju. Tidak ada Indonesia Emas 2045 tanpa ruang kelas yang terang hari ini.

Mari jadikan pendidikan sebagai pilar utama, bukan sekadar program pelengkap. Mari kita jaga guru, kita muliakan murid, kita bereskan sekolah. Karena dari ruang kelas yang baik akan lahir pemimpin yang baik. Dari guru yang sejahtera akan lahir generasi yang merdeka.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026.  

“Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”


*Ketua DPC PKB Buleleng



Reporter : Redaksi
Redaktur : Redaksi